Makna dan Sepenggal Kisah Lambang Aceh Pancacita

  • 05 Mei 2024 23:57 WIB
  •  Banda Aceh

KBRN Banda Aceh : Provinsi Aceh, yang kaya akan warisan sejarah dan kebudayaan, mempunyai lambang yang mencerminkan kemegahan dan keberagaman wilayahnya. Lambang Aceh, yang juga dikenal dengan Pancacita, tidak hanya sekadar gambar atau simbol belaka, melainkan sebuah refleksi mendalam tentang nilai-nilai, aspirasi, dan jati diri yang dimiliki oleh masyarakat Aceh.

Dikutip dari berbagai sumber, Pancacita memiliki lima makna mendasar, yaitu keadilan, kepahlawanan, kemakmuran, kerukunan, dan kesejahteraan. Lambang Aceh memiliki bentuk persegi lima yang menyerupai kopiah. Dalam perisai tersebut, terdapat gambaran alat timbangan (dacin), senjata tradisional Aceh (rencong), serta simbol-simbol kemakmuran seperti padi, kapas, dan lada.

Selain itu, terdapat juga gambar cerobong pabrik, kubah masjid, serta kitab dan kalam sebagai simbol-simbol kebudayaan dan spiritualitas Aceh. Adapun makna dari sejumlah gambar tersebut yaitu :

1. Dacin atau alat timbangan bermakna keadilan.

2. Rencong Bermakna Kepahlawanan.

3. Padi, kapas, lada, dan cerobong pabrik bermakna Kemakmuran.

4. Kubah Masjid Bermakna Kerukunan, dan

5. Kitab dan Kalam Bermakna Kesejahteraaan.

Adapun sosok dibalik terciptanya Lambang Aceh Pancacita adalah, Chairul Bahri, Pelukis yang lahir di Bintang, Aceh Tengah, 31 Juli 1927. Pada tahun 1961, Chairul Bahri diberi tugas untuk membuat gambar Lambang Pantja Tjita, seperti yang disebutkan dalam laporan Panitia Sayembara Lambang Daerah Istimewa Aceh (badan penilai) pada tanggal 17 Mei 1961 pada angka III.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....