FKPT Lampung: Guru Jadi Benteng Cegah Radikalisme di Sekolah

  • 27 Apr 2024 03:30 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Anak-anak pelajar di sekolah termasuk salah satu yang paling berisiko terpapar paham radikalisme. Karenanya, lingkungan sekolah menjadi salah satu yang menjadi fokus pemerintah agar faham tersebut tak menyusup ke bangku pendidikan.

Kepala Bidang Penelitian Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Lampung, Abdul Qodir Zaelani menegaskan, pihaknya terus berupaya melindungi masyarakat dari benih-benih radikal sejak dini. Salah satunya dengan memberikan pemahaman tentang radikalisme kepada guru-guru agar mereka manjadi benteng bagi anak didik dari paham keliru.

Zaelani mengatakan, pihaknya memiliki program pencegahan radikalisme intoleransi dan intoleransi dan terorisme (ERIT) khusus untuk di lingkungan sekolah hingga kampus di Lampung. Ia menyebut program ini sebagai langkah dini dalam menangkal perkembangan faham radikal di lingkungan pendidikan, baik bagi guru maupun murid.

"Pertama kita memberikan pemahaman kepada guru-guru terkait bahanya ERIT ya, itu yang pertama. Jadi mereka harus memahami apa itu ekstrimisme, radikalisme, intoleransi dan terorisme atau ERIT," kata Zaelani dalam perbincangannya dengan Pro3 RRI, Jumat (26/4/2024).

Menurutnya, tanpa pemahaman yang tepat, virus ERIT tidak akan mudah terdeteksi baik oleh guru apalagi murid atau anak didik. "Jadi, yang pertama guru harus memahami itu jangan sampai ada pemahaman-pemahaman yang kemudian agama itu di manipulasi dan didistorsi itu," ucap Zaelani.

Ia menjelaskan, bahwa terdapat tiga komponen radikalisme, pertama komponen pemikiran atau pemahaman. Kedua, komponen sikap dan yang ketiga adalah tindakan atau perbuatan.

"Nah, ini kita beri pemahaman kepada guru. Jadi ketika ada muridnya yang berpaham menyimpang kemudian mereka akan langsung tanggap," katanya.

Diantara ciri-ciri paham radikal adalah seseorang cenderung bersikap intoleransi, yaitu tidak menghormati perbedaan atau gampang menyesatkan orang lain yang berbeda paham. "Ini kita berikan kepada guru sehingga apa yang didapatkan oleh guru itu bisa ditransformasi kepada murid-muridnya di sekolah," ujar Zaelani.

"Jadi, dari radikalisme itu komponen yang paling tinggi menjadi tindakan atau perbuatan, sampai pada aksi terorisme atau memberontak," ucap.

Karena itu, Zaelani yakin, bila faham radikalisme bisa dideteksi dini kemungkinan tidak akan sampai mengarah kepada terorisme. "Karena terorisme itu selalu diawali oleh faham-faham radikalisme," ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....