Tingkatkan Indeks Pertanaman, Langkah Optimasi Pemanfaatan Lahan Pertanian

  • 15 Mar 2024 06:40 WIB
  •  Denpasar

KBRN, Denpasar: Optimasi lahan adalah usaha meningkatkan produktivitas dan Indeks Pertanaman (IP) melalui penyediaan sarana produksi pupuk dan pengolahan tanah yang didukung dengan penerapan teknologi. Optimasi lahan sawah merupakan salah satu langkah strategis dalam mengantisipasi kekurangan lahan untuk memproduksi padi. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan Indeks Pertanaman (IP) dan produktivitas lahan sawah melalui penyediaan sarana produksi (pupuk) dan bantuan pengolahan tanah serta dukungan teknologi spesifik lokasi.


Indeks Pertanaman (IP) adalah frekuensi penanaman pada sebidang lahan pertanian untuk memproduksi bahan pangan dalam kurun waktu 1 tahun. Intensifikasi adalah upaya peningkatan produksi melalui peningkatan penerapan teknologi untuk meningkatkan produktivitas.


Pada dasarnya usaha intensifikasi erat hubungannya dengan optimalisasi lahan karena tujuan melaksanakan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan produktivitas persatuan luas dan atau meningkatkan luas pertanaman atau indeks pertanaman (IP), melalui penerapan teknologi. Extensifikasi adalah upaya peningkatan produksi melalui penambahan luas areal.

Ir. I Made Oka Parwata, M.MA Penyuluh Pertanian Ahli Utama, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Prov. Bali mengatakan semakin menyusutnya lahan pertanian produktif sebagai akibat alih fungsi lahan, maka diperlukan upaya konkrit untuk meningkatkan produksi melalui optimasi pemanfaatan lahan. Adanya gejala “leveling off” dalam peningkatan produktivitas, maka upaya peningkatan Indeks Pertanaman (IP) merupakan salah satu solusi. Namun demikian dalam upaya peningkatan Indeks Pertanaman (IP) juga sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor.

“Peningkatan luas tanam melalui peningkatan IP, sangat ditentukan oleh kecukupan air pada ruang dan waktu yang tepat sesuai pertumbuhan dan perkembangan tanaman padi. Hal ini sesuai sifat fisiologis tanaman padi sawah sangat membutuhkan air, mulai dari persiapan tanam, persemaian, sampai pematangan. Permasalahan air untuk berusaha tani lebih komplek lagi karena adanya perubahan iklim extrim yang menyebabkan kesulitan dalam menentukan pola dan waktu tanam untuk tanaman padi yang tepat, sementara kebutuhan air untuk padi sangat tinggi. Usaha untuk menurunkan kebutuhan air untuk mengusahakan tanaman padi sudah sering dan lama dilaksanakan, seperti pemberian air intermittent, petakan macak-macak yang biasanya selain terbentur pada kebiasaan sosial petani yang selalu menggenang petakan sawah, juga berhadapan dengan masalah gulma,”urainya.

Ketersediaan sarana pengolahan akan sangat mempengaruhi lamanya waktu pengolahan tanah. Pengolahan lahan secara tradisional dengan cangkul maupun bajak akan membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan pengolahan dengan traktor. Semakin lama waktu yang dibutuhkan dalam pengolahan tanah tentu akan menghambat upaya peningkatan Indeks Pertanaman (IP) dan demikian sebaliknya.

Ketersediaan rakitan teknologi yang memungkinkan memperpendek jangka waktu tanaman di lapangan akan sangat mempengaruhi besar kecilnya IP lahan. Rakitan teknologi ini tentu akan menjadi salah satu pilihan dalam upaya meningkatkan IP.


Perbedaan sifat genetis tanaman, khususnya umur tanaman akan sangat mempengaruhi IP. Tanaman dengan umur genjah tentu akan memberikan peluang yang lebih besar dalam upaya peningkatan IP, demikian sebaliknya.


“Optimasi pemanfaatan lahan dalam artian luas baku lahan tetap dapat meningkatkan produksi melalui peningkatan Indeks Pertanaman (IP) maupun peningkatan produktivitas melalui upaya intensifikasi dan penerapan teknologi sesuai kondisi setempat (spesifik lokasi). Saat ini secara umum terdapat 3 teknologi usahatani padi yang memungkinkan dilaksanakan untuk pelaksanaan optimasi lahan sawah untuk peningkatan IP dan atau produktivitas, yaitu Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT), System Of Rice Intensification (SRI) dan Sistem Salin Ibu atau SALIBU,” tambahnya.


Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) adalah upaya untuk meningkatkan hasil dan pendapatan petani, melalui penerapan teknologi yang sesuai dengan kondisi petani dan lingkungan setempat, dengan pemilihan komponen teknologi ke dalam kelompok dasar dan teknologi.


Komponen dasar PTT adalah : varietas unggul baru, benih bermutu dan berlabel, bahan organik, pengaturan populasi tanaman, pemupukan berdasarkan kebutuhan tanaman, pengendalian organisme pengganggu tanaman berdasarkan pengendalian hama secara terpadu.


Komponen teknologi pilihan PTT, merupakan pilihan teknologi sesuai kondisi setempat antara lain; pengolahan tanah sempurna atau minimal, bibit muda < 21 hari, pengairan secara efektif dan efisien, penyiangan dengan landak/gasrok, waktu panen dan perontokan gabah sesegera mungkin.


System of Rice Intensification (SRI) pertama kali diterapkan dengan pemanfaatan bahan organik yang bertujuan untuk mengembangkan usaha tani ramah lingkungan, hemat air irigasi, termasuk saprodi benih, pemakaian bahan organik untuk memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah, termasuk mendaur ulang limbah dan berbasis kearifan lokal.

Tahapan pelaksanaan SRI organik relatif sama dengan PTT :

1. Tahapan persiapan seperti pembuatan mikro organisme lokal (MOL) yang berfungsi sebagai decomposer dan aktivator. Pembuatan kompos, dengan bahan kotoran hewan, jerami, sisa-sisa tanaman. Untuk mempercepat proses dekomposisi dapat dibantu dengan MOL di atas.

2. Tahap pelaksanaan; Pengolahan tanah, pemilihan benih sehat dan bernas teknologi sederhana dapat diuji melalui perendaman air garam, persemaian, penanaman, untuk mengurangi stres umur bibit 7 – 10 hari, tanam tunggal pangkal membentuk huruf L ( agar anakan banyak), dengan jarak tanam lebar 40 x 40 cm, sampai 50 x 50 cm. Pemberian air macak-macak kecuali saat penyiangan genangan air 2-3 cm. Setelah penyiangan diberikan MOL, sementara pengendalian HPT mengikuti kaidah konsep pengendalian hama terpadu.

Dengan uraian tersebut di atas, maka teknologi SRI memungkinkan terjadinya peningkatan IP karena umur bibit muda sehingga menghemat waktu dan pengairan secara intermitten memungkinkan dilakukan penanaman pada lahan dengan ketersediaan air yang cukup terbatas.

Teknologi SALIBU

Teknologi Salibu relatif baru yang merupakan ratun (Bali disebut embong) yang dimodifikasi; dengan memanfaatkan batang bawah padi setelah panen sebagai penghasil tunas/anakan yang dapat dipelihara/dibudidayakan.


Beberapa faktor yang cukup berpengaruh untuk keberhasilan dalam penerapan teknologi ini antara lain: varietas, tinggi pemotongan batang sisa panen, kondisi air tanah setelah panen, penjarangan, penyisipan dan pemupukan.


Dari segi peningkatan indeks pertanaman (IP), penerapan teknologi SALIBU sangat dimungkinkan karena tidak memerlukan pengolahan tanah, pembibitan dan penanaman, sehingga dapat menghemat waktu, tenaga, biaya pengusahaan secara nyata.

“Optimasi Pemanfaatan Lahan dapat dilakukan melalui peningkatan Indeks Pertanaman (IP) sehingga memungkinkan terjadinya peningkatan produksi disamping upaya intensifikasi untuk meningkatkan produktivitas. Pilihan teknologi yang tepat dalam upaya meningkatkan Optimasi Pemanfaatan lahan, antara lain PTT, SRI dan SALIBU yang semuanya mengarah kepada upaya peningkatan Indeks Pertanaman (IP),” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....