Pengerupukan, Tradisi Usir Bhuta Kala Sebelum Hari Raya Nyepi

  • 10 Mar 2024 15:36 WIB
  •  Singaraja

KBRN, Singaraja: Umat Hindu akan merayakan Hari Raya Nyepi tahun baru Saka 1946 pada Senin (11/3/2024). Sehari sebelum perayaan Hari Raya Nyepi, Umat Hindu melaksanakan tradisi Pengerupukan.

Berdasarkan perhitungan kalender Bali, Pengerupukan dilaksanakan setiap Tilem Sasih Kesanga. Tahun ini, Pengerupukan bertepatan pada Minggu (10/3/2024).

Pengerupukan merupakan salah satu tahapan pelaksanaan Hari Suci Nyepi yang mempunyai makna, mengusir Bhuta Kala yang ada di lingkungan rumah, pekarangan, dan sekitar. Dalam ajaran Hindu Dharma, Bhuta Kala adalah kekuatan (Bhu) alam semesta dan waktu (Kala).

Bagi umat Hindu di Bali, prosesi Pengerupukan yabg dilaksanakan pada sore hari itu, dipercaya mampu mengusir Bhuta Kala atau kekuatan serta roh jahat agar tidak mengganggu pelaksanaan Catur Brata Penyepian saat Hari Raya Nyepi keesokan harinya. Pengerupukan dilaksanakan dengan berkeliling di halaman rumah dengan membawa obor api dari beberapa helai janur kering yang diikat menjadi satu serta memukul benda-benda agar menghasilkan bunyi gaduh sembari menaburkan nasi tawur.

Pelaksanaan pengerupukan ditandai dengan diaraknya ogoh-ogoh atau patung yang menggambarkan kepribadian dan sosok Bhuta Kala. Biasanya, Bhuta Kala digambarkan sebagai sosok yang besar, menakutkan atau menyeramkan dan berwujud raksasa.

Setelah diarak mengelilingi desa, ogoh-ogoh tersebut kemudian dibakar. Pembakaran ogoh-ogoh dimaknai sebagai upaya memusnahkan kejahatan yang disimbolkan dengan Bhuta Kala di bumi.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....