FOI Sebut 23,6 Persen Anak Alami Rawan Pangan
- 07 Mar 2024 19:00 WIB
- Jakarta
KBRN, Jakarta: Dewan Pakar Foodbank of Indonesia (FOI) Risatianti Kolopaking mengatakan, sebanyak 23,6 persen anak mengalami kerawanan pangan. Hal itu berdasarkan hasil survei yang dilakukan FOI.
Risatianti merinci, sebanyak 76,4 persen responden mengalami kerawanan pangan ringan. Kemudian 18,2 persen kerawanan pangan sedang, serta 5,4 persen termasuk kategori kerawanan pangan berat.
“Satu dari dua anak ke sekolah dalam keadaan perut kosong. Sebesar 1,3 persen anak tidak diberikan bekal ke sekolah. Alih-alih sarapan, 12,2 persen anak terbiasa diberi uang saku sebesar Rp5.000-Rp10.000 setiap hari untuk membeli jajan di sekolah, sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan gizi untuk proses tumbuh kembangnya,” kata Risa, dalam Dialog Media mengenai Kelaparan pada Anak PAUD, yang berlangsung di Kantor Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) RI, Jakarta Pusat, pada Kamis (7/3/2024).
Lebih lanjut Risa menjelaskan, bahwa data tersebut merupakan hasil survei yang dilakukan terhadap 107 kepala sekolah PAUD dan 628 orang tua murid mitra program Mentari Bangsaku. Adapun program Mentari Bangsaku merupakan bantuan pangan tambahan untuk anak sekolah.
Selain itu, menurut data Global Hunger Index (GHI), Indonesia menempati peringkat ke-77 dari 125 negara dengan skor 17,6 yang tergolong tingkat moderat terkait kerawanan pangan dan kelaparan. Posisi ini berpotensi menyebabkan berbagai bentuk masalah malnutrisi yang berdampak pada kesejahteraan individu, termasuk anak-anak yang merupakan kategori masyarakat rentan.
Dalam kesempatan yang sama, Pendiri FOI M. Hendro Utomo mengatakan, asupan gizi pada anak yang terbiasa membeli jajan di sekolah cenderung tidak dapat terpenuhi. Anak akan berisiko terjangkit penyakit degeneratif atau tidak menular (PTM), seperti jantung koroner, diabetes, stroke, dan lain sebagainya.
“Penyakit degeneratif menyebabkan penurunan fungsi tubuh dan berdampak pada produktivitas seseorang. Negara menanggung biaya penyakit degeneratif masyarakat dan pada tahun 2023 beban, biaya tersebut naik hingga 30 triliun,” ujar Hendro.
Keluarga memiliki peran penting untuk mengurangi angka kelaparan pada anak. Para orang tua bertanggungjawab memberikan perhatian terhadap budaya makan dan asupan gizi anggota keluarganya.
Di samping itu, sekolah juga berperan dalam mendukung pangan dan gizi yang baik melalui literasi dan intervensi pangan. Dengan begitu, angka kerawanan pangan pada anak diharapkan dapat terus ditekan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....