Peringkat Indeks Toleransi Solo Terjun Bebas, dari 4 ke 10

  • 31 Jan 2024 14:56 WIB
  •  Surakarta

KBRN,Surakarta: Indeks Kota Toleransi (IKT) Solo 2023 anjlok, dari posisi empat menjadi 10 besar. Kondisi ini membuat Wakil Wali Kota Teguh Prakosa mengaku kaget atas menurunnya peringkat IKT yang disandang Kota Bengawan.

Wakil Wali Kota Solo Teguh Prakosa hadir secara langsung untuk menerima penghargaan dari Setara Institut. Laporan IKT Setara Institute dirilis di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Selasa (30/1/2024) malam.

Dalam sambutannya seusai menerima penghargaan Teguh mengaku kaget, posisi Solo tergelincir dari 4 menjadi 10 besar.

"Kami agak kaget ini, indikatornya apa ini dari 4 ke 10 ya," ucap Wakil Walikota Solo Teguh Prakosa saat menyampaikan victory speak, dikutip dari YouTube Setara Institut, Rabu (31/1/2024).

Teguh mengatakan, Solo memang tidak lepas dari wilayah yang sering dilakukan penangkapan terduga teroris. Namun Kota Solo selalu menggelar event di kawasan Balai Kota setiap perayaan hari besar keagamaan.

"Kota kami ini di sekitarnya ada pernik-pernik (terorisme). Kemarin ditangkap satu di kelurahan Mojo, jadi indikator ya. Kemudian 10 tahun terakhir di Balai Kota itu tidak berpagar, setiap hari-hari besar keagamaan di sana mesti ada pernik-pernik Natal, Lebaran dan puasa, Waisak, Imlek, itulah yang kami gambarkan secara nyata, bahwa kami setara pada siapapun. Lha ini justru terimakasih kami akan mawas diri," kata Teguh Prakosa.

Ribuan Lampion Imlek terpasang di kawasan Balai Kota, Jembatan Pasar Gede hingga kawasan Pecinan Solo menjelang perayaan Tahun Baru China. Foto Mulato

Terkait dengan penurunan peringkat Kota Solo dalam IKT 2023 diduga dari kasus GKJ Nusukan, Solo yang hingga saat ini belum selesai.

Catatan RRI, ada dua kasus di Kelurahan Banyuanyar Kecamatan Banjarsari selama 2023 lalu. Yakni penolakan pendirian rumah ibadah serta protes sekolah Minggu yang diselenggarakan GKJ Nusukan.

Menurut Ketua Badan Pengurus Setara Institut Ismail Hasani, dalam mengukur IKT 2023, Setara Institute menilai pemenuhan terhadap tiga aspek kepemimpinan yang diperlukan untuk memperkuat ekosistem toleransi di sebuah kota.

"Ketiganya adalah kepemimpinan kemasyarakatan, kepemimpinan politik, dan kepemimpinan birokrasi," katanya dalam sambutan acara.

Sementara itu 10 kota paling toleran, urutan teratas ditempati oleh Kota Singkawang, urutan kedua ditempati Kota Bekasi, dan urutan ketiga ditempati Kota Salatiga.

Kemudian, peringkat keempat hingga kesepuluh secara berturutan ditempati oleh Kota Manado, Semarang, Magelang, Kediri, Sukabumi, Kupang, dan Surakarta.

Adapun 10 kota dengan skor toleransi rendah berturut-turut adalah Sabang, Bandar Lampung, Palembang, Pekanbaru, Mataram, Lhokseumawe, dan Padang. Kemudian, tiga terbawah adalah Banda Aceh, Cilegon, dan Depok. MI

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....