Kelompok Tani Hutan di Lumajang Protes Penebangan Pohon Oleh Perhutani
- 16 Jan 2025 16:14 WIB
- Jember
KBRN, Lumajang: Kelompok tani hutan Wonolestari Desa Burno Kecamatan Senduro Kabupaten Lumajang memprotes adanya penebangan yang dilakukan oleh perhutani Lumajang karena telah melakukan penebangan yang dinilai sepihak yang diduga berdampak buruk terhadap ekologi dan pada masyarakat
Ketua Kelompok tani hutan Wonolestari Desa Burno Kecamatan Senduro Lumajang Edi Santoso ketika dikonfirmasi RRI akibat penebangan yang telah dilakukan oleh Perhutani Lumajang sejak tahun 2015 yang lalu hingga saat ini seringkali melakukan penebangan hutan sehingga diduga berdampak pada hilangnya puluhan mata air disekitar Senduro Lumajang dan mengalami kekeringan disejumlah titik.
Selain itu sejumlah lahan dan perumahan warga yang berada dibawahnya secara letak geografis tidak sedikit yang sudah menggantung dan dikawatirkan kerusakan lingkungan akan terjadi semakin parah dan terjadi banjir bandang serta kejadian tanah longsor akan terjadi pada kawasan Senduro Lumajang dan wilayah
"Ini tidak bisa dibiarkan penebangan sembarangan dilakukan karena harus mengindahkan dampak pada masyarakat toh tanaman muda kami juga belum jadi,"Jelasnya Kamis (16/01/2025)
Ketua kelompok tani hutan Wonoasri juga menyampaikan dampak akibat penebangan hutan yang selama ini saja dapat dirasakan 5 sampai 10 tahun yang akan datang akan terjadi kerusakan lingkungan yang sangat parah kedepanya.
Dampak yang nantinya bisa berdampak terhadap kerusakan lingkungan akibat dugaan penebangan yang terjadi yakni di wilayah perkotaan Lumajang karena sejumlah saluran air dari kawasan hutan yang selama ini dilakukan mengarah kekawasan sungai yang mengarah ke wilayah kota Lumajang
Sejumlah sungai tersebut yakni Sungai kali asem, sungai biting dan dampak kerusakan lingkungan lainya karena secara letak geografis berada dibawah Desa Burno Senduro Lumajang.
"Sungai kali asem dan kerusakan DAM Gambiran beberapa tahun lalu hendaknya juga menjadi evaluasi semua pihak karena kebanjiran pada sungai - sungai tersebut dalam sejarah tidak pernah terjadi,"Jelasnya
Warga selalu komplain dan mengadu ke kelompok tani hutan terkait kegiatan tebangan yang dilakukan oleh pihak perhutani terkait penebangan yang dilakukan perhutani pada satu tapak di tepi jalan semua dikawatirkan akan berdampak pada masyarakat dibawahnya.
Kerusakan lingkungan sudah terjadi saat ini yakni sumber mata air mengalami penurunan 11 liter per detik menjadi 6,7 liter, banjir dan tanah longsor juga terjadi diduga akibat terjadinya penebangan mayoritas dipinggir jalan yang dilakukan sejak tiga tahun ini.
Sementara itu Asper Perum Perhutani BKPH Senduro Gatot Kuswinaryono ketika dikonfirmasi RRI di ruang kerjanya mengatakan jika pihaknya sejak 10 tahun terakhir ini melakukan pengelolaan kawasan hutan, mulai dari tanam, pemeliharaan dan penebangan dan areanya tidak pada satu wilayah senduro akan tetapi dilakukan pada sejumlah titik.
"Tanaman yang ditebang sudah melebihi daur sehingga penebangan dilakukan, penebangan pohon Damar sudah berusia 35 tahun Kami selaku perusahaan, bisnis kami disitu, Gaji kami dari situ jika damar melebihi daur secara ekologi harus diremajakan sudah sesuai fungsinya, jika tidak ditebang maka akan membahayakan dan merugikan perusahaan, Perhutani yang notabene BUMN yang mandiri dari aset negara hidup matinya perhutani dari perhutani sendiri,"Jelasnya
Gatot juga mengaku dalam melakukan penebangan pada kawasan Senduro Lumajang sudah mendapatkan intruksi dari pimpinan dari Probolinggo, malang dan jatim serta penebangan sudah dilakukan analisa secara mendalam.
Sementara itu Pada kesempatan terpisah Waka Perhutani Lumajang Yanuar ketika dikonfirmasi RRI melalui telephone selulernya masih sibuk dan ketika dikonfirmasi di ruang kerjanya kamis 16/01 sedang berada di Sruabaya sehingga belum memberikan keterangan resminya hingga berita ini dipublikasikan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....