Tradisi Batamat Al Quran Dalam Masyarakat Banjar

  • 04 Nov 2024 20:18 WIB
  •  Banjarmasin

KBRN, Banjarmasin : Batamat Al Qur’an merupakan salah satu tradisi dalam masyarakat banjar Secara etimologi, tradisi batamat al-Qur’an terdiri dari dua kata, yakni batamat dan Al-Qur’an. Menurut Kamus Bahasa Banjar-Indonesia, istilah batamat diambil dari kata tamat yang bermakna khatam atau selesai.

Tradisi menamatkan atau menyelesaikan Al-Qur’an serupa dengan tradisi khatmil Qur’an yang lumrah dilaksanakan di berbagai wilayah Indonesia (Nusantara), namun masing-masing daerah memiliki kekhasan dan keistimewaan tersendiritersendiri, hal ini disampaikan Dr. Imam Alfiannor, S. Ag., M. H. I (Dosen Fakultas Syariah UIN Antasari) saat acara Ruhui Barakatan di Pro 4 RRI Banjarmasin. Sabtu (2/11/2024).

Menurut Imam Alfiannor, Urang Banjar juga memiliki tradisi batamat Al-Qur’an biasanya dilakukan untuk anak-anak atau remaja yang baru pertama kali menyelesaikan seluruh bacaan Al-Qur’ an sebanyak 30 Juz. Sebagai bentuk apresiasi dan tanda kebanggaan, batamat Al-Qur’an ala urang Banjar juga biasanya dilaksanakan pada perayaan-perayaan lainnya seperti batamat Al-Qur’an bagi calon pengantin, ritual kematian (pembacaan Al-Qur’an tiga hari di kuburan), perayaan maulid, tadarus pada bulan Ramadhan, batamat massal, dan batamat alQur’an lainnya, ujar Imam.

Pada kesempatan yang sama Zuardi menambahkan, dari beragam bentuk batamat al-Quran di kalangan Masyarakat Banjar, semuanya memiliki nilai-nilai yang sama, yakni akulturasi budaya lokal dengan ajaran Islam dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah swt melalui kalam-Nya.

"Batamat Al-Quran adalah tradisi agamis yang melekat pada urang Banjar. Tradisi ini senantiasa dipertahankan masyarakat Banjar dari masa ke masa," ujarnya.

Dijelaskannya, saat hendak melaksanakan kegiatan batamat al-Qur’an, masyarakat Banjar harus mempersiapkan beberapa hal, mulai dari al-Qur’an, lapik atau alas duduk dibuat menggunakan tapih bahalai (batik panjang), payung kembang (berupa rangka bambu berbentuk lingkaran sepert payung, tersusun yang berjumlah ganjil), lakatan atau nasi ketan dengan hinti (kelapa parut yang diberi gula merah), telur, dan air putih dalam botol. Selain mempersiapkan peralatan.

"dalam prosesi batamat al-Quran juga harus mengundang guru mengaji atau ustadz yang mengajarkan al-Quran kepada anak, warga sekitar, dan anak-anak yang akan ikut acara batamat al-Qur’an," kata Imam.

Nabila yang juga hadir dalam acara ini turut menambahkan, dalam pelaksanaan batamat Al-Qur’an, peserta menggunakan pakaian tertentu. Laki-laki menggunakan jubah atau gamis putih yang dilengkapi dengan sorban dan patah kangkung (gulungan atau bulang) di atas kepala. Sedangkan perempuan menggunakan baju jubah dengan renda tilai dan bulang warna-warni di atas kepala, lalu ditutup dengan kakamban atau kerudung.

"Pakaian-pakaian mengandung nilai ketaatan dalam menutup aurat dan estetika atau keindahan dalam motif serta warna. Ketika persiapan selesai, maka prosesi batamat al-Qur’an bisa dilaksanakan. Batamat Al-Quran – khususnya batamat massal," ujar Nabila.

Tradisi batamat Al-Quran di kalangan urang Banjar bertujuan untuk menghidupkan nilai-nilai spiritual keagamaan bagi masyarakat setempat. Untuk membentuk keagamaan masyarakat yang kokoh, nilai-nilai semacam ini harus dibentuk sejak dini hingga dewasa," kata Imam mengakhiri acara Ruhui Barakatan di PRO 4 RRI Banjarmasin.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....