Filosofi Rumput Ilalang Menurut Ajaran Agama Hindu
- 28 Okt 2024 11:34 WIB
- Denpasar
KBRN, Denpasar : Salah satu tanaman yang dijadikan sarana upakara dalam upacara Yadnya umat Hindu di Bali yaitu rumput alang – alang atau ilalang. Rumput ini adalah rumput suci yang digunakan sebagai sarana penyucian, yang banyak tumbuh di berbagai tempat.
Rumput ilalang atau alang - alang banyak digunakan sebagai sarana upacara Yadnya, ketika dibentuk menjadi sarana upakara, ilalang tersebut akan dibuat dalam bentuk “Sirawista” atau “Karawista” dan juga bisa menjadi “Saet Ming Mang” yang merupakan bentuk dari Siwa Lingga sebagai perwujudan atau “Pengawak” yang digunakan pada saat upacara Ngaben. Hal tersebut disampaikan oleh Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kota Denpasar, Ida Ayu Ratih, dalam program acara Surya Puja, beberapa waktu lalu di Programa 4 RRI Denpasar.
“Ada juga ilalang yang berjumlah 11 batang yang diikat jadi satu dijadikan sarana upakara sebagai penyucian bangunan baru. Serta dapat juga sebagai sarana untuk memercikkan tirta ( air suci) yang biasa digunakan dalam masyarakat Hindu,khususnya pada saat umat Hindu akan menerima tirta saat selesai persembahyangan. Jadi bisa digunakan oleh para Pendeta tau Pinandita” ujarnya.
Ida Ayu Ratih menambahkan untuk penggunaan tanaman rumput ilalang ini sudah menjadi suatu kepastian bagi para Pendeta umat Hindu. Karena terkait penggunaan rumput ilalang ini setiap akan melaksanakan proses upacara dalam agama Hindu, selalu berlandaskan pada sumber sastra baik dalam Weda maupun lontar – lontar suci yang masih berbahasa Sansekerta, Jawa Kuno, maupun yang berbahasa Bali Kuno yang kemudian diterjemahkan agar masyarakat yang memiliki lontar – lontar tersebut bisa memahami isinya.
Diungkapkan rumput ilalang juga mempunyai filosofi ketika baru tumbuh bentuk ujungnya sangat tajam, yang artinya dapat disimbolkan bahwa pada saat muda, pemikiran manusia sangat tajam dalam mengisi kehidupan dengan belajar. Maka para generasi muda wajib untuk bersekolah. Kemudian setelah rumput ilalang tersebut tua akan difungsikan sebagai atap bangunan, lebih – lebih lagi digunakan untuk atap tempat suci, misalnnya “Sanggah Surya” sebagai peneduh. Hal tersebut bermakna manusia setelah tua menjadi peneduh atau sebagai pembimbing menuntun bagi generasi muda menuju masa depan.
Dijelaskan Ayu Ratih dalam Adiparwa, Sloka 39 bab VI. yang berkaitan dengan rumput ilalang menyatakan bahwa rumput ilalang itu adalah rumput yang suci karena titik Tirta Amerta yang tertinggal di pucak daun ilalang tersebut. Dengan demikian rumput ilalang menjadi suci yang diyakini sampai sekarang oleh umat Hindu.
“Dengan demikian ilalang tersebut sampai sekarang menjadi suci karena berdasarkan cerita ilalang sudah terkena cipratan dari Tirta Amertha. Tirta Amertha ini merupakan tirta suci dan sakral. Dalam lontar Siwagama juga menyebutkan bahwa daun ilalang ini adalah suci yang mengandung nilai – nilai kesakralan atau kesucian “ pungkasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....