Pemanasan Global, Jakarta Perlu Adaptasi Terhadap Perubahan Lingkungan

  • 08 Des 2022 11:25 WIB
  •  Jakarta

KBRN, Jakarta: Pemanasan global merupakan isu yang terus menjadi perhatian bersama. Masalah ini memberikan berbagai dampak buruk bagi kehidupan makhluk hidup.

Menurut Ketua Dewan Pertimbangan Pengendalian Perubahan Iklim KLHK, Sarwono Kusumaatmaja, gaya hidup dan perilaku manusia memiliki kaitan erat dengan perubahan iklim. Ia menyebut gaya hidup yang mewah dan boros kerap menyumbang kerusakan alam dan lingkungan. Selain itu, eksploitasi sumber daya alam akan menyebabkan keadaan alam menjadi tidak seimbang, sehingga mendorong terjadinya perubahan lingkungan.

Salah satu dampak yang ditimbulkan akibat perubahan iklim ialah cuaca ekstrim dan tidak menentu karena adanya peningkatan suhu di bumi. Kondisi tersebut tentunya menimbulkan bencana dan kerugian bagi masyarakat.

“Makin lama cuaca tidak dapat diprediksi. Ini ada sebabnya. Kegiatan manusia menyebabkan kandungan gas senyawa nitrogen dan karbon meningkat. Jadi kita seperti hidup di bawah selimut yang makin tebal. Ini lah termasuk perubahan iklim,” ujar Ketua Dewan Pertimbangan Pengendalian Perubahan Iklim KLHK, Sarwono Kusumaatmaja, dalam Dialog Interaktif Tanggap Bencana RRI Jakarta, yang berlangsung di Arborea Cafe Jakarta Pusat, Selasa (6/12/2022).

Kondisi ini perlu dipahami bersama agar dapat diantisipasi dengan baik dan tepat. Direktur Mobilisasi Sumber Daya Sektoral dan Regional, Dirjen Pengendalian Perubahan Iklim KLHK, Wahyu Marjaka, menyebut ada berbagai upaya yang dapat diimplementasikan untuk mengatasi pemanasan global.

Pertama adalah berbagi informasi mengenai permasalahan iklim dan mulai melakukan aksi nyata. Salah satunya dengan melakukan penamanan tanaman guna mempercepat penambahan ruang terbuka hijau. Upaya ini dinilai efektif untuk mereduksi temperatur suhu di wilayah Jakarta yang minim vegetasi.

Upaya kedua yang dapat dilakukan ialah meningkatkan kemampuan adaptasi masyarakat untuk mengendalikan efisiensi. Seperti adanya ruang terbuka hijau yang mampu mengurangi konsumsi listrik.

“Contohnya dengan ruang terbuka hijau, kita akan mengurangi konsumsi listrik,. Jadi mulai aware dengan mengontrol temperatur AC. Ini hal sederhana, tetapi penting, karena akan jauh mengurangi energi. Temperatur naik di Jakarta tidak hanya dari transportasi, tetapi juga karena konsumsi energi AC,” ujar Direktur Mobilisasi Sumber Daya Sektoral dan Regional, Dirjen Pengendalian Perubahan Iklim KLHK, Wahyu Marjaka.

Masyarakat perlu memahami pentingnya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Hal ini dikarenakan dampaknya yang begitu luas, sehingga perlu kolaborasi dari seluruh pihak untuk mengatasinya.

“Respon kita terhadap perubahan iklim dan kebencanaan tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk orang di sekeliling kita. Jadi pesan-pesan tanggap bencana, adaptasi, mitigasi terhadap perubahan iklim tidak cukup sampai di kita, tetapi sampaikan kepada orang–orang terdekat kita,” kata Analis Pemberdayaan Masyarakat KLHK, Lyta Permatasari.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....