Pemecahan Konflik Keluarga melalui Pendekatan Teori Komunikasi Krisis

  • 19 Mar 2024 12:00 WIB
  •  Cirebon

Ditulis Oleh: Nida Aminaturrizqi (Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media SV IPB University)


KBRN, Majalengka: Konflik menurut Lewis A. Coser adalah perjuangan mengenai nilai atau tuntutan atas status, kekuasaan, dan sumber daya yang bersifat langka dengan maksud menetralkan, mencederai, atau menyelenyapkan lawan.

Secara sederhana, konflik adalah sebuah perselisihan yang terjadi antar individu atau kelompok karena adanya sebab-sebab tertentu yang akhirnya akan memicu perpecahan antar individu atau kelompok.

Konflik pun terbagi kedalam beberapa jenis, tergantung ruang lingkupnya. Berikut ini jenis-jenis konflik:

1. Konflik Individu: Antara individu atau antara individu dan kelompok masyarakat.
2. Konflik Rasial: Antara dua ras atau lebih yang berbeda.
3. Konflik Agama: Antara kelompok dengan keyakinan dan agama yang berbeda.
4. Konflik Antar Kelas Sosial: Antara kelas atau kelompok masyarakat.
5. Konflik Politik: Terjadi karena perbedaan pandangan dalam kehidupan politik.
6. Konflik Sosial: Terjadi dalam kehidupan sosial masyarakat.
7. Konflik Internasional: Terjadi antar negara di seluruh dunia.

Konflik seringkali tidak bisa dihindari bagaimana pun caranya. Disisi lain, konflik bisa disebut juga sebagai bumbu kehidupan agar manusia dapat lebih merasakan makna kehidupan yang sesungguhnya.

Konflik dalam sebuah keluarga sering kali berasal dari berbagai sumber, mulai dari masalah kecil hingga yang fatal. Konflik ini dapat menyebabkan krisis komunikasi yang membutuhkan pemahaman terhadap teori Komunikasi Krisis untuk penanganannya.

Komunikasi Krisis Menjadi Solusi Penyelesaian Penyelesaian Masalah

Komunikasi krisis adalah proses komunikasi efektif yang dilakukan saat masa kritis dan meminimalisir adanya dampak negatif yang muncul. Sebagian orang menggunakan teori komunikasi krisis adalah untuk menyelesaikan sebuah permasalahan di suatu perusahaan.

Namun jika diimplementasikan dengan baik teori komunikasi krisis pun dapat diterapkan ketika hendak menyelesaikan sebuah permasalahan di suatu keluarga.

Konflik keluarga sering kali disebabkan oleh ketidakserasian, kecemburuan berlebihan, tekanan atau stres, kesulitan finansial, dan berbagai penyebab lainnya. Kasus kekerasan dalam keluarga, perceraian, atau bahkan pembunuhan seringkali memiliki akar masalah pada krisis komunikasi antara anggota keluarga. Dengan adanya manajemen komunikasi krisis yang baik, maka permasalahan tersebut dapat terselesaikan.

Berdasarkan data dari KPAI pada tahun 2022, keluarga merupakan klaster tertinggi dalam kekerasan terhadap anak selama tahun 2021 dengan rincian kasus pemenuhan hak anak 2.971 kasus dan perlindungan khusus anak 2.982 kasus.

Pada tahun 2021, tren kasus pada kluster tertinggi perlindungan khusu anak didominasi oleh anak korban kekerasan fisik atau psikis yang mencapai 1.138 kasus. Dengan adanya kasus tersebut, tidak sedikit orang tua yang melakukan kekerasan kepada anaknya akibat adanya konflik dalam rumah tangga yang tidak terselesaikan dengan baik sehingga menjadikan buah hatinya pelampiasan.

Konflik yang terjadi di sebuah keluarga termasuk ke dalam jenis konflik individu, karena konflik terjadi antar individu dalam suatu keluarga. Untuk menghindari konflik yang terjadi di suatu keluarga, tentunya ada beberapa upaya yang dapat dilakukan.

Seperti menjadi pendengar yang baik, tetap tenang dan hormat dalam setiap saat, tidak malu untuk mengakui kesalahan diri sendiri dan bersifat terbuka, belajar untuk menjadi pemaaf, dan hindari penggunaan nada tinggi ketika sedang memulai percakapan.

Dengan menerapkan komunikasi yang baik antarindividu, keluarga dapat menghindari berbagai konflik yang mungkin timbul dan mempertahankan keharmonisan dalam hubungan mereka.

Penerapan Teori Komunikasi Krisis dalam Konflik Keluarga

Teori Komunikasi Krisis dapat menjadi solusi untuk mengatasi konflik keluarga. Terdapat berbagai teori yang dapat diterapkan, namun dalam konteks ini, Teori Coordinated Management of Meaning (CMM) dan Situational Crisis Communication Theory (SCCT) dapat menjadi pilihan yang tepat.

Teori CMM membantu individu atau keluarga untuk saling berkomunikasi dan menciptakan makna selama situasi krisis. Sedangkan SCCT fokus pada identifikasi faktor situasional yang menyebabkan konflik dalam keluarga.

Barneet Pearce dan Vernon Cronen berpendapat bahwa komunikasi adalah inti untuk menjadi manusia dan orang menciptakan realitas percakapannya sendiri. Menciptakan makna dalam interaksi yang dicapai dengan menerapkan berbagai aturan berdasarkan isi komunikasi, tindakan yang dinyatakan, situasi, hubungan antar komunikator, dan pola-pola budaya.

Dengan demikian, Teori Coordinated Management of Meaning (CMM) ini dapat membantu individu atau suatu keluarga saling berkomunikasi dan menciptakan makna selama situasi krisis.

Meskipun terdapat berbagai faktor penghambat, seperti hal nya anggota keluarga yang tidak kooperatif, tidak adanya tujuan bersama, dan adanya perbedaan nilai dan pandangan, manajemen krisis yang baik dapat membantu menghindari konflik besar dalam keluarga. Oleh karena itu, keterampilan dalam komunikasi krisis sangat penting dalam penyelesaian konflik keluarga.

Dalam kesimpulan, konflik merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia, namun dengan penanganan yang bijak dan efektif, dampak negatifnya dapat diminimalkan. Pentingnya keterampilan dalam komunikasi krisis dapat menjadi kunci dalam menyelesaikan konflik dalam keluarga. (*)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....