Mengenal Yusuf Ronodipuro, Suara Proklamasi dan Pendiri RRI
- 09 Sep 2026 11:52 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Ia merupakan salah satu pendiri RRI dan pencetus semboyan “Sekali di Udara, Tetap di Udara.”
- Yusuf juga menggagas rekaman ulang suara Proklamasi yang dibuat di studio RRI pada 1951.
- Yusuf Ronodipuro menjadi penyiar pertama yang menyiarkan Proklamasi melalui radio ke dunia.
RRI.CO.ID, Jakarta - Muhammad Yusuf Ronodipuro merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah penyiaran Indonesia. Ia dikenal sebagai penyiar pertama yang menyiarkan kabar Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ke dunia melalui radio.
Yusuf Ronodipuro lahir di Salatiga, Jawa Tengah, pada 30 September 1919. Ia mulai meniti karier di dunia penyiaran dan bergabung dengan Radio Hoso Kyoku milik pemerintah pendudukan Jepang pada 1943.
Pada 17 Agustus 1945, Yusuf masih bertugas sebagai penyiar di Hoso Kyoku. Saat itu, aktivitas di dalam gedung radio mendapat pengawasan ketat tentara Jepang sehingga para pegawai tidak leluasa keluar masuk.
Situasi berubah ketika Syahruddin, pegawai Kantor Berita Domei, berhasil menemui Yusuf. Ia membawa secarik kertas dari Adam Malik yang berisi naskah Proklamasi yang baru saja dibacakan Soekarno dan Mohammad Hatta.
Yusuf kemudian berupaya menyiarkan kabar kemerdekaan tersebut meski menyadari risikonya. Bersama Bachtiar Loebis dan teknisi Joe Seragih, ia memanfaatkan studio siaran luar negeri yang sudah tidak aktif.
Pada pukul 19.00 WIB, Yusuf membacakan teks Proklamasi melalui radio. Sekitar 20 menit kemudian, ia kembali membacakan teks tersebut dalam bahasa Inggris agar dapat menjangkau pendengar di luar negeri.
Siaran tersebut kemudian menjangkau sejumlah radio internasional. Di antaranya BBC London, Radio Amerika, dan radio di Singapura, sehingga kabar kemerdekaan Indonesia semakin luas diketahui dunia.
Keberanian Yusuf dan rekan-rekannya membuat tentara Jepang melakukan penangkapan dan penyiksaan. Yusuf bahkan nyaris dieksekusi menggunakan pedang oleh seorang perwira Jepang sebelum tindakan tersebut dihentikan.
Cedera akibat penyiksaan tersebut meninggalkan dampak permanen bagi Yusuf. Ia mengalami cedera pada kaki dan disebut berjalan pincang hingga akhir hayatnya.
Perjuangan Yusuf kemudian berlanjut melalui pendirian Radio Republik Indonesia. Pada 11 September 1945, para tokoh radio dari berbagai daerah berkumpul dan sepakat mendirikan RRI sebagai corong suara rakyat Indonesia.
Yusuf Ronodipuro tercatat sebagai salah satu pendiri RRI. Ia juga menjadi salah satu tokoh yang mencetuskan semboyan RRI, “Sekali di Udara, Tetap di Udara.”
Setelah RRI berdiri, kiprah Yusuf terus berkembang di bidang penyiaran dan pemerintahan. Ia pernah dipercaya menjadi Kepala RRI dan kemudian menjalankan sejumlah tugas negara hingga menjadi diplomat Indonesia.
Salah satu kontribusinya yang juga dikenang adalah gagasan merekam ulang suara pembacaan Proklamasi. Pada 1951, Yusuf mengusulkan kepada Soekarno agar pembacaan Proklamasi direkam kembali di studio RRI.
Rekaman tersebut kemudian menjadi dokumentasi suara Proklamasi yang dikenal luas dan masih diperdengarkan dalam berbagai peringatan kemerdekaan Indonesia. Gagasan itu menunjukkan peran RRI bukan hanya sebagai penyebar informasi, tetapi juga penjaga arsip sejarah bangsa.
Yusuf Ronodipuro juga melanjutkan pengabdiannya sebagai pejabat negara dan diplomat. Ia tercatat pernah mendampingi delegasi Indonesia dalam Konferensi Radio Asia dan menjalankan tugas di PBB sebelum dipercaya menjadi duta besar.
Yusuf Ronodipuro meninggal dunia di Jakarta pada 27 Januari 2008 dalam usia 88 tahun. Namanya hingga kini dikenang sebagai tokoh penting yang menghubungkan perjuangan kemerdekaan dengan sejarah panjang penyiaran Indonesia.
Warisan Yusuf tidak hanya berupa keberanian menyuarakan Proklamasi ketika Indonesia baru merdeka. Perannya dalam mendirikan RRI turut meletakkan dasar bagi lembaga penyiaran yang hingga kini menjadi salah satu sumber informasi masyarakat Indonesia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....