Ragam Tradisi Maulid Nabi di Berbagai Daerah Indonesia
- 24 Agt 2026 14:30 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Peringatan Maulid Nabi di Indonesia memiliki tradisi berbeda di setiap daerah.
- Sekaten, Baayun Maulid, Maudu Lompoa, Walima, dan Endog-Endogan menjadi beberapa tradisi yang berkembang.
- Tradisi Maulid memperlihatkan perpaduan nilai keagamaan dengan budaya lokal Indonesia.
RRI.CO.ID, Jakarta - Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Indonesia hadir dengan beragam tradisi yang berkembang di setiap daerah. Selain diisi dengan pembacaan selawat dan pengajian, masyarakat juga merayakannya melalui tradisi budaya yang diwariskan secara turun-temurun.
Keberagaman tersebut menunjukkan adanya perpaduan antara nilai keagamaan dan budaya lokal. Kementerian Agama menyebut sejumlah tradisi Maulid di Indonesia, seperti Sekaten, Walima, Nyiram Gong, Endog-Endogan, Baayun Maulid, hingga Ngurisan.
Tradisi-tradisi tersebut memiliki bentuk pelaksanaan serta makna yang berbeda. Namun, semuanya berkembang sebagai bagian dari kehidupan masyarakat dalam memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.
1. Sekaten di Yogyakarta dan Surakarta
Salah satu tradisi Maulid yang dikenal luas adalah Sekaten yang berkembang di lingkungan Keraton Yogyakarta dan Surakarta. Tradisi tersebut menjadi bagian dari peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Sekaten sebagai karya budaya dari Kota Surakarta. Tradisi ini disebut sebagai upacara tahunan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Di Yogyakarta, Sekaten menjadi salah satu rangkaian Hajad Dalem Keraton yang dilaksanakan pada bulan Mulud atau Rabiul Awal. Tradisi tersebut kemudian berlanjut dengan Garebeg Mulud yang menjadi salah satu rangkaian penting peringatan Maulid.
Garebeg Mulud juga identik dengan keberadaan gunungan yang dibawa dari keraton menuju Masjid Gedhe. Setelah didoakan, gunungan kemudian dibagikan kepada masyarakat sebagai bagian dari rangkaian tradisi.
2. Baayun Maulid di Kalimantan Selatan
Masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan memiliki tradisi Baayun Maulid. Tradisi ini dilakukan dengan mengayun anak-anak sambil diiringi pembacaan doa dan selawat Nabi.
Baayun Maulid merupakan tradisi masyarakat Banjar yang telah berlangsung secara turun-temurun. Tradisi tersebut menjadi bentuk perpaduan budaya Banjar dengan nilai-nilai Islam.
Dalam pelaksanaannya, anak-anak ditempatkan di ayunan yang dihias dan kemudian diayun bersama. Pembacaan selawat dan doa mengiringi prosesi tersebut sebagai bagian dari peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Tradisi ini juga memiliki nilai keteladanan bagi masyarakat. Baayun Maulid menjadi salah satu sarana untuk mengenalkan Nabi Muhammad SAW kepada anak-anak sekaligus mengajarkan keteladanan beliau.
3. Maudu Lompoa di Sulawesi Selatan
Di Sulawesi Selatan terdapat tradisi Maudu Lompoa yang berkembang di masyarakat Cikoang, Kabupaten Takalar. Maudu atau Maulid menjadi bagian penting dalam tradisi masyarakat setempat untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Maudu Lompoa telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Tradisi tersebut tercatat dalam domain adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan.
Maudu berkembang di wilayah Cikoang sebelum kemudian menyebar ke sejumlah daerah di Sulawesi Selatan. Perayaannya memiliki kekhasan berupa Baku Maudu, yang menjadi bagian dari tradisi masyarakat setempat.
Pelaksanaan Maudu Lompoa juga melibatkan berbagai persiapan dan kegiatan masyarakat. Di antaranya pembacaan selawat serta penyediaan sajian yang kemudian dibagikan dalam rangkaian perayaan Maulid.
4. Walima di Gorontalo
Gorontalo juga memiliki tradisi Walima yang dilaksanakan dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Tradisi ini menjadi salah satu bentuk perayaan keagamaan yang berkembang di masyarakat Gorontalo.
Kementerian Agama memasukkan Walima sebagai salah satu contoh tradisi Maulid yang memiliki keunikan di daerah masing-masing. Tradisi tersebut menjadi bagian dari kekayaan budaya yang menyertai peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW.
| Baca juga: Pawai Santri Semarakkan Maulid Nabi |
5. Endog-Endogan di Banyuwangi
Di Banyuwangi, masyarakat mengenal Endog-Endogan sebagai salah satu tradisi yang berkaitan dengan peringatan Maulid Nabi. Tradisi ini juga sebagai salah satu bentuk perayaan Maulid yang berkembang di Indonesia.
Tradisi tersebut menunjukkan bagaimana peringatan keagamaan dapat berkembang dengan karakter budaya yang berbeda di setiap daerah. Nilai keagamaan tetap menjadi bagian penting, sementara bentuk perayaannya mengikuti tradisi masyarakat setempat.
Selain menjadi bentuk rasa syukur dan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, tradisi Maulid juga menjadi ruang untuk menjaga warisan budaya. Keberagaman tersebut penting untuk dilestarikan sebagai bagian dari kekayaan budaya masyarakat Indonesia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....