Bapanas Dorong Budidaya Lobster Bernilai Tambah Ekonomi

  • 05 Sep 2026 18:15 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Budidaya lobster dinilai dapat meningkatkan ketersediaan protein hewani dan nilai tambah ekonomi masyarakat
  • Penguatan ekosistem diperlukan melalui teknologi, sarana prasarana, permodalan, dan kepastian pasar
  • Pembudidaya menghadapi kendala benih, pakan, keramba jaring apung, freezer, dan fluktuasi harga
  • Komisi IV DPR RI mendorong akselerasi budidaya lobster melalui penguatan rantai usaha dari hulu hingga hilir
  • Bapanas mendorong budidaya lobster sebagai bagian dari penguatan ketahanan pangan berbasis potensi daerah

RRI.CO.ID, Lombok Timur – Bapanas mendorong pengembangan budidaya lobster untuk memperkuat ketahanan pangan berbasis potensi daerah. Pengembangan lobster dinilai dapat meningkatkan ketersediaan protein hewani sekaligus memberikan nilai tambah ekonomi masyarakat.

Hal tersebut disampaikan saat Bapanas mendampingi Kunjungan Kerja Spesifik Komisi IV DPR RI ke Instalasi Telong-Elong. Kunjungan berlangsung Kamis, 3 September 2026 di fasilitas BPBL Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Direktur Pengendalian Kerawanan Pangan Bapanas Rachmad Firdaus mengatakan lobster memiliki potensi besar mendukung ketahanan pangan. Menurutnya, komoditas tersebut juga berpeluang meningkatkan pendapatan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi daerah

“Ini merupakan potensi yang sangat baik. Utamanya dalam rangka penguatan ketahanan pangan dari sektor perikanan,” ujar Rachmad dalam keterangan tertulis, Sabtu, 5 September 2026.

Rachmad mengatakan, optimalisasi pangan daerah perlu disesuaikan dengan karakteristik dan sumber daya setiap wilayah. Pengembangan berbasis potensi lokal diharapkan memperluas manfaat ekonomi sekaligus memperkuat perekonomian nasional.

Namun, pengembangan budidaya lobster masih menghadapi sejumlah kendala di tingkat pembudidaya. Dalam kunjungan tersebut, nelayan dan pelaku usaha menyampaikan persoalan permodalan, benih, pakan, serta sarana keramba.

Pembudidaya juga menghadapi keterbatasan freezer untuk penyimpanan pakan dan fluktuasi harga jual lobster. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya penguatan ekosistem budidaya dari hulu hingga hilir.

“Dengan penguatan ekosistem budidaya, dukungan teknologi, sarana dan prasarana, permodalan, serta kepastian pasar. Kita optimistis potensi lobster Indonesia dapat terus dikembangkan,” kata Rachmad.

Ketua Komisi IV DPR RI Titiek Soeharto mengatakan, akselerasi budidaya lobster membutuhkan ekosistem yang terintegrasi. Penguatan tersebut mencakup benih, teknologi pendederan, pembesaran, pakan, KJA, permodalan, kelembagaan, hingga pasar.

Menurutnya, seluruh rantai budidaya perlu diperkuat secara terpadu agar pengembangan lobster berjalan optimal. "Akselerasi budidaya lobster tidak dapat dilakukan setengah-setengah," kata Titiek.

Bupati Lombok Timur H. Haerul Warisin mengatakan sarana pendukung masih menjadi kebutuhan pembudidaya lobster. Salah satunya fasilitas freezer untuk menyimpan pakan yang dinilai masih sangat terbatas.

“Di samping KJA yang sederhana itu. Mereka sangat-sangat kekurangan yang namanya freezer,” kata Haerul.

Bapanas menilai pengembangan lobster sejalan dengan Perpres Nomor 81 Tahun 2024 tentang Percepatan Penganekaragaman Pangan. Lobster sebagai komoditas pangan akuatik atau blue food dinilai dapat mendukung penganekaragaman pangan nasional.

Pengembangannya membutuhkan sinergi pemerintah pusat, daerah, pembudidaya, pelaku usaha, dan lembaga pendukung. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu mengoptimalkan potensi lobster dan memberikan manfaat ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....