Nilam Aceh Harus Jadi Standar Nasional
- 02 Jun 2025 21:41 WIB
- Banda Aceh
KBRN, Banda Aceh: Minyak nilam atau patchouli oil telah lama dikenal sebagai komoditas strategis Indonesia yang memainkan peran penting dalam industri minyak atsiri dunia. Di tengah meningkatnya permintaan global akan bahan baku alami untuk kosmetik, parfum, dan produk aromaterapi, Indonesia terus menunjukkan eksistensinya sebagai salah satu produsen utama nilam dunia. Namun di balik potensi besar tersebut, muncul tantangan dalam menjaga konsistensi mutu dan kapasitas produksi yang berdaya saing tinggi.
Salah satu daerah yang menjadi pusat produksi nilam berkualitas adalah Aceh. Daerah ini telah dikenal luas, baik secara nasional maupun internasional, sebagai penghasil nilam terbaik dengan kandungan minyak yang tinggi dan aroma yang khas. Meski demikian, keberhasilan Aceh dalam mempertahankan reputasinya tidak serta-merta diikuti oleh daerah penghasil nilam lainnya di Indonesia. Ketimpangan kualitas antardaerah menjadi tantangan tersendiri dalam mewujudkan kekuatan industri nilam yang solid dan terstandarisasi.
“Nilam Aceh itu sejak dulu sudah dikenal sebagai nilam yang memiliki keunggulan yang sangat luar biasa. Selain di Aceh, Indonesia juga memproduksi nilam, salah satunya di Sulawesi,” ujar Dr. Ir. Elly Sufriadi, S.Si., M.Si., yang menjabat sebagai Sekretaris Atsiri Research Center (ARC) Universitas Syiah Kuala (USK), dalam sebuah dialog interaktif di PRO 1 RRI Banda Aceh pada Minggu (1/6/2025).
Dalam dialog tersebut Elly juga mengingatkan bahwa meskipun Indonesia dikenal sebagai salah satu negara produsen nilam terbesar di dunia, tidak semua wilayah penghasil mampu menyamai standar kualitas yang dimiliki nilam Aceh. Ia mencontohkan Sulawesi sebagai salah satu daerah yang juga memproduksi nilam, namun dari sisi kualitas masih tergolong rendah. “Perlu kita ketahui juga, nilam produksi Sulawesi secara kualitasnya kurang baik. Justru nilam kualitas Aceh-lah yang terbaik,” jelasnya .
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa rendahnya kualitas nilam dari beberapa daerah lain dapat berdampak terhadap upaya ekspor, terutama saat pasar internasional menuntut standar mutu yang tinggi dan konsisten. Maka dari itu, menurutnya, penting untuk melakukan strategi pengolahan dan pencampuran bahan dari berbagai wilayah, agar tetap bisa memenuhi volume permintaan pasar global sekaligus mempertahankan kualitas. “Jadi, untuk memproduksi nilam yang baik, apalagi untuk mengekspor ke luar negeri, Indonesia harus mencampur kedua nilam yang berbeda daerah ini. Tujuannya agar dapat dibeli di market luar negeri,” tambah Elly.
Pernyataan Elly tersebut menegaskan pentingnya peran sinergi antardaerah dalam membangun ekosistem produksi nilam nasional yang lebih kuat dan terintegrasi. Aceh, sebagai daerah produsen dengan kualitas terbaik, sepatutnya menjadi pusat pembelajaran dan referensi bagi wilayah lain, sehingga seluruh potensi nasional dapat dimaksimalkan secara kolektif. Dalam konteks ini, kerja sama antara pemerintah, akademisi, petani, dan pelaku industri menjadi kunci penting agar Indonesia dapat mempertahankan eksistensinya sebagai pemain utama dalam pasar minyak atsiri dunia.
Tidak hanya itu, untuk mengangkat nilai tambah nilam Indonesia secara menyeluruh, diperlukan juga penguatan riset, inovasi teknologi, serta dukungan kebijakan yang berpihak pada petani nilam lokal. Melalui pendekatan yang holistik dan berkelanjutan, nilam Aceh dapat menjadi lokomotif penggerak ekonomi berbasis komoditas unggulan yang berorientasi ekspor, sekaligus mengangkat kesejahteraan masyarakat di daerah penghasil.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....