Ketua ISMI: Inovasi Penting dalam Memperkuat Ekonomi Umat
- 16 Apr 2025 14:49 WIB
- Bandung
KBRN, Bandung: Ketua Ikatan Saudagar Muslim se-Indonesia (ISMI) Ilham Akbar Habibie, menegaskan pentingnya inovasi dan kolaborasi sebagai fondasi utama dalam memperkuat kedaulatan ekonomi umat.
Dalam pembukaan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) ISMI, Ilham menyoroti peran strategis Usaha Kecil dan Menengah (UKM) dalam mendukung program nasional, khususnya di sektor pangan, industri, dan teknologi.
"Hari ini kita berkumpul dalam Rakornas ISMI. Ini adalah ajang penting untuk menyatukan visi dan misi, sekaligus memperkuat jaringan kerja sama antarwilayah. ISMI adalah rumah bagi UKM muslim di Indonesia," kata Ilham, Rabu (16/4/2025).
ISMI, menurut Ilham, didirikan pada 2013 oleh empat organisasi Islam besar yaitu MUI, NU, Muhammadiyah, dan ISMI sendiri. Tujuan utamanya adalah memperkuat posisi ekonomi umat melalui UKM.
"ISMI ini organisasi bisnis, sesuai namanya: Ikatan Saudara Muslimin se-Indonesia. Dan kita fokus kepada UKM. Ini adalah rumahnya UKM," ujarnya.
Ilham menjelaskan bahwa ISMI saat ini memiliki lima program utama: dagang, pangan, papan, industri, serta teknologi dan inovasi.
"Semuanya harus kita perhatikan secara khusus, terutama dari sisi teknologi dan inovasi," ucapnya.
Ia menekankan bahwa keberhasilan usaha saat ini tak mungkin dicapai tanpa keterlibatan teknologi.
"Teknologi tidak harus selalu digital. Biarpun digital dominan, tapi ada juga yang non-digital. Seperti teknologi pengolahan pangan, atau untuk kesehatan. Itu semua juga penting," tambahnya.
Ilham menuturkan, Rakornas ini menjadi wadah strategi baru dalam menyambut visi pemerintahan Prabowo Subianto dengan mengangkat tema "Kolaborasi dan Inovasi untuk Mencapai Kedaulatan Pangan".
"Kedaulatan pangan adalah program inti Presiden Prabowo, selain kedaulatan air dan energi. Dan pangan ini peluang besar bagi UKM kita. Tidak cukup hanya membuat pertanian produktif. Kita juga harus mengolah hasil bumi dan laut kita sendiri di Indonesia," katanya.
Ilham mencontohkan sektor mineral sebagai inspirasi. "Seperti halnya program hilirisasi di sektor mineral, alangkah baiknya kita terapkan juga di pertanian dan perikanan. Apa yang ada di Indonesia, harus kita olah sendiri, untuk dalam negeri dan juga untuk ekspor." katanya.
Rakornas ini dihadiri tujuh Orwil secara langsung dan sisanya lewat Zoom. Ilham berharap suasana diskusi interaktif bisa membangkitkan ide-ide baru.
"Saya harap bukan hanya saya yang memberikan arahan, tapi terjadi diskusi antaranggota. Interaktif itu paling bermanfaat. Pertanyaan yang ada harus diajukan. Kita semua belajar dari itu." harapnya.
Ilham juga menyoroti situasi perdagangan internasional yang penuh ketidakpastian akibat kebijakan tarif proteksionis.
"Dagang kita di dunia saat ini sedang mengalami ketidakpastian besar. Terutama karena tarif dari satu negara yang kemudian direspons negara-negara lain. Ada dua tipe jawaban: retaliasi atau negosiasi. Indonesia memilih negosiasi," jelasnya.
Menurut Ilham, retaliasi dengan tarif bisa memicu krisis ekonomi global. "Kalau semua negara hanya jawab dengan tarif, perdagangan internasional akan berhenti. Itu meruntuhkan ekonomi dunia," katanya.
Ia mengungkapkan saat ini ada delegasi Indonesia yang dipimpin oleh Menteri Ekonomi di Washington untuk memperkuat diplomasi dagang.
"Kita harus reformasi dan inovasi. Winston Churchill bilang: 'Don’t let a good crisis go to waste'. Justru saat krisis kita harus berinovasi," ucapnya tegas.
ISMI diarahkan untuk mencari pasar baru dan memperluas ekspor. "Kalau kita kehilangan pasar di Amerika, kita cari ke Asia Tenggara, Asia Selatan, Timur Tengah, Afrika, bahkan Eropa. Kesepakatan seperti CEPA harus kita selesaikan segera," tegasnya.
Ia juga menyinggung lima sektor industri utama Amerika yang bisa terdampak situasi ini: garmen, sepatu, mebel, karet, dan barang elektronik.
"Banyak pekerja di sektor ini. Kita harus pastikan mereka tetap bisa bekerja dan berproduksi."
Sebagai Ketua ICC Indonesia dan pengurus di KADIN, Ilham memfasilitasi sinergi antara ISMI dan lembaga lain.
"Di ICC Indonesia ada COA, Center of Entrepreneurship. Tugasnya membantu UKM agar bisa ekspor dengan baik," ujarnya.
Ia menekankan pentingnya kolaborasi. "Jangan semua kita kerjakan sendiri. Cari mitra yang komplementer. Mereka tahu hal yang kita belum tahu, dan sebaliknya. ISMI harus bermitra dengan organisasi terpilih." tandasnya.
Ilham juga menyinggung perannya di KADIN dalam bidang Ristek. "Kami bantu pelaku usaha, termasuk UKM, agar bisa tahu di mana bisa mendapatkan teknologi. Misalnya di BRIN, tapi BRIN kadang tidak tahu harus kerja sama dengan siapa. Kita bantu jembatani," jelasnya.