Produksi Jamu Herbal Jadi Alternatif Usaha Berkelanjutan

  • 23 Jan 2025 17:16 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Gunungkidul: Kementerian Pertanian (Kementan), melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPPSDMP) terus berupaya meningkatkan taraf pemberdayaan petani dengan peningkatan nilai tambah serta kapasitas petani.

Menteri Pertanian, Andi Amran mengatakan “Kami berkomitmen untuk menjaga keberlanjutan sektor pertanian serta kesejahteraan petani di Indonesia”.

Menteri Pertanian mendukung penuh pengembangan produk pertanian bernilai tambah, termasuk jamu herbal, sebagai bagian dari diversifikasi produk pertanian dan peningkatan kesejahteraan petani. Bentuk dukungan tersebut dapat dijalankan dengan adanya Program P4S.

Sementara Kepala BPPSDMP, Idha Widi Arsanti menegaskan P4S merupakan mitra BPPSDMP yang memiliki peran strategis sebagai tempat pelatihan sekaligus magang, guna akselerasi dan adopsi teknologi pertanian.

“Dengan adanya P4S diharapkan dapat menghasilkan dan melahirkan petani pengusaha yang lebih banyak lagi. Otomatis kesejahteraan petani akan meningkat dan ini menjadi harapan besar," ujar Santi.

Melalui berbagai program pelatihan dan kerja sama tersebut, BPPSDMP berkomitmen untuk mendukung pengembangan produksi jamu herbal di Indonesia dengan meningkatkan kapasitas dan kompetensi petani serta tenaga profesional di sektor pertanian.

Pada Sabtu (18/01) Kepala Pusat Pelatihan Pertanian, Inneke Kusumawaty telah aktif mendorong pengembangan produksi jamu herbal di Indonesia. Inneke mengunjungi langsung Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) "Timoer Sentosa" di Gunung Kidul, Yogyakarta, yang sukses mengembangkan usaha olahan jamu herbal.

Inneke menegaskan pentingnya peran P4S sebagai pusat pembelajaran bagi petani, dengan harapan dapat melahirkan lebih banyak petani pengusaha yang mandiri dan meningkatkan kesejahteraan mereka.

Inneke juga menekankan bahwa produksi jamu herbal oleh petani merupakan bukti kemandirian dan inovasi dalam meningkatkan nilai tambah produk pertanian.

Apresiasi juga diberikan Inneke kepada usaha jamu herbal yang dirintis oleh Yuniari. “Ini sangat luar biasa mereka tidak hanya menjual jamu herbal namun juga melakukan pendampingan kepada wanita-wanita tani agar bisa lebih mandiri berusaha tani dan menghasilkan usaha yang berdaya saing,” katanya.

Yuniari selaku ketua P4S Timoer Sentosa, Gunung Kidul, DIY memulai usahanya pada 2014. Yuniari belajar secara mandiri untuk dapat mengembangkan skill mengolah ramuan jamu nya. Pemasaran nya juga masih dari rumah ke rumah. Namun usahanya berkembang pesat pada saat masa pandemi Covid-19.

Dari keberhasilannya Yuniari akhirnya membangun P4S di tahun 2021, dengan usaha herbal dari mulai budidaya bibit empon-empon, olahan produk jamu kering, instan dan minuman herbal.

“Saat ini yang paling dicari adalah minuman sehat, kebanyakan masyarakat sudah mulai gencar untuk mengkonsumsi minuman/makanan yang sehat. Sebab itu kami juga membuat varian minuman yang diminati anak muda,” alasan Yuniari memilih usaha jamu herbal.

Beberapa produk olahan minuman yang dibuat Yuniari antara lain Infused water, kunyit asam dan telang tea sedangkan produk herbal lainnya seperti jamu bahan dasar dari temulawak, jahe merah, kencur dll.

Kini produknya telah dipasarkan ke area sekitar dan juga dijual online serta support ke beberapa Kementerian. Ada juga yang dijual di Toko oleh-oleh dan Bandara Yogyakarta Internasional Airport (YIA). Dari usaha ini Yuniari bisa menghasilkan omset mencapai 50 juta/bulannya.

Keberhasilan yang Yuniari dapat tidak serta merta untuk dirinya sendiri. Yuniari juga aktif dalam pelatihan di P4S nya. Dalam sebulan Yuniari mampu memberikan pelatihan 2 hingga 3 kali baik di Kelompok Wanita Tani (KWT) dan anggota PKK wilayahnya.

Melalui upaya ini, Yuniari dan P4S "Timoer Sentosa" berkontribusi signifikan dalam pemberdayaan petani lokal dan pengembangan produk jamu herbal di Indonesia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....