Bagai Makan Buah Simalakama, ternyata Buahnya Benar-Benar Ada
- 30 Agt 2026 11:43 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Peribahasa 'bagai makan buah simalakama' menggambarkan situasi seseorang menghadapi dua pilihan yang sama-sama sulit dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
- Buah simalakama bukan hanya ungkapan peribahasa, tetapi merujuk pada tanaman nyata bernama mahkota dewa atau Phaleria macrocarpa.
- Tanaman mahkota dewa dengan nama simalakama telah lama dikenal dan menjadi bagian dari budaya dan tradisi masyarakat Indonesia.
RRI.CO.ID, Jakarta – Ungkapan “bagai makan buah simalakama” sudah lama dikenal dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Peribahasa tersebut menggambarkan keadaan ketika seseorang menghadapi dua pilihan yang sama-sama sulit.
Namun, buah simalakama ternyata bukan sekadar bagian dari peribahasa. Nama tersebut merujuk pada tanaman mahkota dewa atau Phaleria macrocarpa.
Melansir berbagai sumber, tanaman mahkota dewa merupakan tanaman asli Indonesia yang berasal dari wilayah Papua. Tanaman ini kemudian banyak dibudidayakan di berbagai daerah lain di Indonesia.
Buahnya berbentuk bulat dengan permukaan yang licin. Saat masih muda, buahnya berwarna hijau dan akan berubah menjadi merah ketika sudah matang.
Sekilas, buah yang sudah matang terlihat cukup menarik karena warnanya merah cerah. Namun, buah tersebut tidak dapat dikonsumsi sembarangan seperti buah pada umumnya.
Bagian biji mahkota dewa dikenal mengandung senyawa yang bersifat beracun. Karena itu, masyarakat perlu berhati-hati dan tidak mengonsumsi buah dalam kondisi segar secara sembarangan.
Mahkota dewa lebih dikenal sebagai tanaman yang digunakan dalam pengobatan tradisional. Bagian yang dimanfaatkan antara lain daging buah, kulit buah, daun, dan bagian tanaman lainnya.
Dalam pemanfaatan tradisional, buah mahkota dewa biasanya melalui proses pengolahan terlebih dahulu. Pengolahan tersebut penting karena buah segar memiliki bagian yang tidak aman untuk dikonsumsi langsung.
Nama simalakama sendiri lebih dikenal dalam bahasa Melayu. Di sejumlah daerah Jawa, tanaman yang sama juga memiliki nama seperti makuto rojo dan makuto ratu.
Karena memiliki nama simalakama, tanaman ini kemudian sering dikaitkan dengan peribahasa yang menggambarkan pilihan sulit. Meski begitu, hubungan sejarah antara nama buah dan asal-usul peribahasa tidak tercatat secara pasti.
Keberadaan buah ini membuat peribahasa “bagai makan buah simalakama” memiliki fakta menarik di baliknya. Ungkapan yang sering digunakan dalam percakapan ternyata merujuk pada tanaman yang benar-benar dapat ditemukan.
Dari peribahasa hingga tanaman asli Papua, buah simalakama memiliki cerita yang cukup panjang. Buah tersebut menunjukkan bagaimana nama tanaman dapat melekat kuat dalam bahasa dan kehidupan masyarakat Indonesia. (Rahmania Ulfah)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....