Maulid Nabi 2026: Keteladanan Rasulullah untuk Merawat Toleransi Bangsa
- 25 Agt 2026 21:15 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H akan diselenggarakan pada Selasa, 25 Agustus 2026, sebagai momen refleksi keteladanan Rasulullah.
- Ustad Khairunnasri mengungkapkan bahwa Rasulullah SAW adalah sosok yang penuh kepedulian dan tidak membalas perbuatan buruk bahkan kepada musuhnya.
- Peringatan Maulid Nabi menjadi momentum penting untuk merenungkan pentingnya toleransi dan keberagaman bangsa dalam konteks keteladanan Rasulullah.
RRI.CO.ID, Jakarta – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H jatuh pada Selasa, 25 Agustus 2026. Peringatan ini menjadi momentum untuk kembali merenungkan keteladanan Rasulullah dalam merawat toleransi di tengah keberagaman bangsa.
Musyrif Tahfidz Yayasan Pendidikan Islam Vinca Rosea Tahfidz Internasional Lhokseumawe, Ustad Khairunnasri, menyebut Rasulullah SAW sebagai sosok yang penuh kepedulian. Bahkan kepada musuhnya sekalipun, Rasulullah tidak membalas perbuatan buruk dan justru mendoakannya.
"Rasulullah SAW itu adalah sosok yang sangat peduli, bahkan kepada musuhnya sekalipun. Nabi tidak menunjukkan sebuah perbuatan yang membalas, tapi justru mendoakan," ucapnya saat berbincang bersama Pro3 RRI, Jakarta, Selasa, 25 Agustus 2026.
Ustad Khairunnasri kemudian mencontohkan solidaritas masyarakat Aceh saat dilanda banjir bandang pada November 2025. Menurutnya, bantuan dari berbagai daerah menunjukkan kuatnya rasa kepedulian sebagai sesama bangsa Indonesia.
Ia menilai semangat berbagi tersebut perlu diwariskan kepada generasi berikutnya melalui keteladanan, bukan sekadar teori. Menurutnya, orang tua memiliki peran penting dalam menanamkan nilai kebaikan kepada anak.
"Mengajarkan konsep berbagi kepada generasi berikutnya membutuhkan keteladanan. Kalau orang tua sudah menunjukkan sikap keteladanannya kepada anaknya, maka Insya Allah, akan mengalir dengan sendirinya," katanya.
Ustad Khairunnasri merujuk pada surat Al-Isra ayat 7, bahwa perbuatan baik sesungguhnya akan mengalir antargenerasi. Ia menegaskan bahwa berbuat baik pada dasarnya bukan untuk orang lain, melainkan untuk diri sendiri.
"Jika berbuat baik, (berarti) kamu telah berbuat baik untuk dirimu sendiri. Jika kamu berbuat jahat, (kerugian dari kejahatan) itu kembali kepada dirimu sendiri." (QS. Al-Isra: 7)
Ustad Khairunnasri mengingatkan agar setiap orang mampu menjadi rahmat bagi diri sendiri, dengan tidak mencampuri urusan orang lain. Sikap ini tercermin pada perilaku Nabi Muhammad SAW yang hanya bereaksi ketika agamanya yang diganggu.
Senada dengan hal itu, Menteri Agama, Nasaruddin Umar, mengajak umat Islam menjadikan akhlak sebagai fondasi membangun peradaban. Rasulullah SAW memulai dakwahnya dengan membangun akhlak manusia terlebih dahulu, sehingga keadilan, ilmu pengetahuan, dan lainnya dapat tumbuh.
"Rasulullah SAW memulai dakwahnya dengan membangun akhlak, karena akhlak adalah fondasi dari setiap peradaban. Ketika akhlak tegak, keadilan akan tumbuh, diikuti dengan pengetahuan, kekuasaan yang amanah, dan kasih sayang," ujarnya, dikutip dari Kementerian Agama, Jakarta, Selasa, 25 Agustus 2026.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....