Sarafal Anam Sebagai Identitas Adat Melayu Bengkulu
- 16 Sep 2024 20:13 WIB
- Bengkulu
KBRN, Bengkulu: Sarafal Anam, begitulah masyarakat adat Melayu Kota Bengkulu Provinsi Bengkulu, menyebutnya. Sarafal Anam merupakan salah satu kesenian dan budaya masyarakat Melayu Bengkulu termasuk salah satunya melayu di Kelurahan Bajak Kecamatan Teluk Segara. Kesenian Sarafal Anam disajikan dalam bentuk seperti mengiramakan sebuah lagu berdendang, namun lagu yang digunakan adalah lantunan zikir serta berisi puji-pujian terhadap Allah, SWT, Rasul atau Nabi.
Warisan budaya Sarafal Anam, kesenian tradisional yang terkait erat dengan perayaan maulid Nabi Muhammad SAW. Walaupun asal mula pasti kesenian ini tidak tercatat, diperkirakan kesenian ini berkembang seiring dengan masuknya Islam ke Bengkulu pada abad ke-15 hingga ke-17.
Ketua Badan Kesejahteraan Masjid Baiturrahim Kelurahan Bajak, Hilman Fuadi mengungkapkan sejarah adanya pelantunan Sarafal Anam di Kota Bengkulu tak terlepas dari adanya budaya Melayu dan pengaruh penyebaran agama Islam di tanah Bengkulu. Tradisi ini bermula, merunut dari aktivitas peringatan hari besar keagamaan yang diselingi dengan dendang Melayu masa lalu.
Tradisi menyambut hari besar keagamaan dengan Sarafal Anam di masjid-masjid yang ada di kawasan Teluk Segara ini kemudian menjadi panutan bagi Masjid Jamik yang merupakan salah satu karya Presiden Soekarno. Lambat laun tradisi yang mulanya ada di Kelurahan Tengah Padang, Kampung Bali, Pondok Besi, kemudian menyebar ke kelompok Melayu di Kelurahan Suka Merindu, Pengantungan dan kelurahan lain di sekitar dan kemudian diangkat menjadi salah satu asas orang Bengkulu.
Pelestariannya, terang Hilman, kemudian membentuk kelompok dengan sebutan Sembahyang 40, di mana peran dan fungsinya bertaut dengan kelompok Sarafal Anam untuk menjaga tradisi tetap terjaga, seperti ketika salah satu anggotanya meninggal dunia, maka kelompok ini akan saling mengundang meramaikan untuk saling menguatkan sanak keluarganya. Tradisi ini kemudian menguat dengan berbagai jenis kegiatan seperti ketika menyunatkan anak, menindik anak perempuan, menikahkan anak, maulid nabi, dan menyambut datangnya bulan suci Ramadan.
Merunut sumber lainnya, Sarafal Anam tidak hanya dikenal sebagai bentuk hiburan, tetapi juga sarana dakwah yang kuat. Kesenian ini memadukan syair-syair keagamaan dari kitab Mawlid Sharaf al-Anam, yang sudah dimodifikasi dan dilagukan dengan gaya khas Bengkulu. Teks-teks yang digunakan, seperti "tanaqqal" dan "bisahri", menambah nuansa spiritual dan kekuatan batin dalam setiap pertunjukan.
Dalam pertunjukan Sarafal Anam, kolaborasi antar peserta sangat penting. Kesenian ini melibatkan kelompok pembaca syair inti dan pembawa lagu jawab yang bersahut-sahutan. Para seniman juga memainkan gendang dengan irama khas seperti "rentak kudo," yang memperlihatkan keindahan sekaligus energi kolektif. Pertunjukan mencapai puncak semangat ketika pukulan gendang semakin cepat dan rapat, menciptakan suasana penuh gairah.
Nilai-nilai kebersamaan dalam Sarafal Anam tercermin dalam pelaksanaannya. Setidaknya dalam sebuah acara sering melibatkan minimal 20 orang, termasuk tokoh-tokoh masyarakat, menjadikan Sarafal Anam bagian tak terpisahkan dari adat istiadat Bengkulu.
Pentingnya Sarafal Anam tidak hanya terletak pada estetika seni, tetapi juga sebagai simbol spiritualitas dan kerjasama sosial. Oleh karena itu, diperlukan peran aktif dari pemerintah untuk melestarikan kesenian ini, termasuk mendokumentasikan teks dan lagu-lagu yang digunakan, serta membina kelompok-kelompok Sarafal Anam yang ada agar tradisi ini tetap hidup di tengah arus modernisasi.
Namun di tengah arus modernisasi, lanjut Hilman, saat ini mulai terbentuk ketua-ketua adat di sekitar kecamatan ini yang mulai eksis mensosialisasikan tradisi melayu Bengkulu dengan rutin melakukan latihan. Latihan meliputi bertatah titih, berbalas pantun, tari bimbang, bimbang gedang, menyambut pengantin dan sarafal anam yang dipusatkan di Kelurahan Berkas berdekatan dengan sekretariat Ikatan Keluarga Melayu. Di sinilah terbuka bagi ketua adat, pemuda pemudi untuk belajar melestarikan kebudayaan Melayu. Dukungan pemerintah juga terbuka untuk memfasilitasi pelestarian budaya dengan mendaftarkan budaya yang ada ke dalam pencatatan warisan Budaya tak Benda serta melibatkan ke berbagai event daerah maupun kesenian. Tak jarang tradisi melayu termasuk sarafal anam yang dilombakan memenangkan lomba dan dikenal oleh masyarakat luas.
Saat ini Sarafal Anam bukan hanya sekedar sarana ritual, melainkan menjadi salah satu identitas budaya adat Melayu Bengkulu. Ada banyak kelompok etnis yang mengadopsi tradisi Sarafal Anam seperti etnis Rejang, Serawai, Kaur, Mukomuko, Lembak, Pekal, Pasemah, dan Enggano yang semuanya disebut sebagai rumpun melayu dengan variasi pembawaan masing-masing.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....