Lawangwangi Creative-Space Hadirkan Seni Rupa Karya G Sidharta
- 15 Jun 2025 01:39 WIB
- Bandung
KBRN, Bandung: ArtSociates mulai melangkah pada upaya pemajuan kebudayaan Indonesia pada bidang seni rupa dengan menginisiasi pembentukan museum seni rupa, khusus karya karya G. Sidharta di kompleks Lawangwangi Creative Space, Bandung.
Ruang seni baru ini diinisiasi sebagai langkah awal menuju pembentukan Museum G. Sidharta, sebuah upaya jangka panjang untuk merawat, meneliti, dan mempublikasikan karya-karya dan warisan pemikiran G. Sidharta sebagai salah satu figur penting dalam sejarah seni rupa Indonesia.
Sebagai pembuka, galeri ini menghadirkan pameran perdana bertajuk "Corpus & Amorf", menampilkan sepilihan karya G. Sidharta dalam pembacaan kuratorial oleh Heru Hikayat, dan akan berlangsung sampai dengan September 2025. Kemudian pameran "A Glimpse of Indonesian Formalism" yang menghadirkan karya Aming Prayitno, G. Sidharta, Kaboel Suadi, Lian Sahar, Mochtar Apin, Simon Admiraal, Umi Dachlan; representasi dari telusur lintasan praktik formalistik yang berkembang di Bandung maupun Yogyakarta yang dipajang di gedung utama Lawangwangi Creative Space sampai 13 Juli 2025.
Andonowati, direktur ArtSociates, dalam pidato pembukaan peresmian Galeri G Sidharta mengatakan, riwayat pertermuannya dengan karya-karya G. Sidharta di awali dengan rencana pameran karya di Salihara, Jakarta, serta mendapat amanat dari G. Sidharta melalui putranya, Tara, agar dibuatkan museum karya-karya G. Sidharta.
ArtSociates melanjutkan upaya perwujudan museum dengan mengumpulkan arsip-arsip karya G. Sidharta dan molding karya yang belum terwujud atas persetujuan pihak keluarga G. Sidharta yang memegang hak cipta karya-karyanya.
“Pengelolaan data karya G Sidharta mulai tahun 2018 oleh ArtSociates, karya patung terdapat lebih dari 100 karya, lebih dari 60 prosen masih berbentuk molding, belum jadi karya. ArtSociates mengelola karya patung edisi yang belum habis diproduksi untuk dikomersilkan," terang Andonowati, Sabtu (14/6/2025).
Lanjutnya, pengelolaan hasil penjualan patung diperuntukan manajemen Museum G Sidharta. ArtSociates juga punya hak untuk mengelola karya-karya copy archive yang tidak bersifat komersial untuk melengkapi koleksi Museum G Sidharta nantinya.
Heru Hikayat, kurator pameran, mengatakan, spektrum penjelajahan artistik G Sidharta sangat luas. G Sidharta banyak mengolah tubuh serta aspek ragam hias, kekhasan budaya lokal yang banyak menginspirasi karya-karyanya.
Pembukaan Galeri G Sidharta diharapkan memberi kesempatan bagi publik seni, kurator, dan pengamat untuk memberikan pandangan dan pembacaan baru terhadap koleksi ini, dengan harapan turut menyumbang pada pemahaman yang lebih luas dan historis tentang seni rupa Indonesia.
Pameran resmi dibuka oleh Dr. Willy Himawan, Ketua Program Sarjana (S1) dan Magister (S2) Seni Rupa ITB. "Galeri dengan nama seniman sudah umum dibentuk dan dikelola oleh keluarganya. Museum G Sidharta akan menjadi catatan sejarah penting di Indonesia karena dikelola oleh masyarakat seni rupa, bukan oleh keluarganya," terang Wily.
Paramitha Palupi, cucu G Sidharta, yang berlatar pendidikan arsitek ditunjuk oleh keluarga besar G Sidharta untuk mengelola data karya kakeknya untuk diberikan kepada ArtSociates. “Sebagian banyak karya dan arsip G Sidharta sudah direlokasi ke Lawangwangi Art Space dalam rangka memenuhi kebutuhan museum G Sidharta. Dan kami masih terus mengurus data dan arsip karya yang ada di Yogyakarta untuk selanjutnya dikelola oleh ArtSociates,"ucapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....