RRI Aceh: Dari Puing Tsunami Hingga Era Digital
- 14 Sep 2024 22:16 WIB
- Banda Aceh
KBRN, Banda Aceh: Gemuruh ombak tsunami 2004 tak hanya meluluhlantakkan Aceh secara fisik, tetapi juga mengguncang sendi-sendi kehidupan, termasuk dunia penyiaran. RRI Banda Aceh, yang telah mengudara sejak 1946, menjadi salah satu korban keganasan bencana tersebut. Gedung kantornya rusak parah, sarana penyiaran lumpuh, memaksa mereka membangun stasiun darurat di Indrapuri.
Namun, semangat "Sekali di Udara Tetap di Udara" tak pernah padam. Dengan kegigihan luar biasa, RRI Banda Aceh berhasil kembali mengudara pada 27 Desember 2004, menjadi suara harapan di tengah puing-puing kehancuran. Mereka tak hanya mengabarkan kondisi terkini Aceh pasca-tsunami, tetapi juga menjadi jembatan informasi bagi masyarakat yang membutuhkan bantuan dan dukungan.
Perjuangan RRI Aceh tak luput dari perhatian. Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi NAD-Nias (BRR NAD-Nias) membangun kembali gedung stasiun RRI Banda Aceh pada tahun 2006, diikuti dengan pembangunan gedung kantor RRI Meulaboh.
Kini, masih dalam suasana HUT ke-79 RRI, Balai Arsip Statis dan Tsunami (BAST) ANRI Aceh memberikan hadiah istimewa: arsip-arsip digital foto langka melalui Instagram BAST Anri, yang merekam perjalanan RRI di Aceh, dari masa-masa sulit pasca-tsunami hingga bangkitnya kembali sebagai lembaga penyiaran yang teguh.
"Selamat HUT Radio Republik Indonesia ke-79 'Inspirasi Keindonesiaan'. Sekali di Udara, Tetap di Udara!" ucap Kepala BAST ANRI, Muhamad Ihwan, (Jumat, 14/9/2024) memberikan apresiasi atas dedikasi RRI selama ini.
Kepala Stasiun RRI Banda Aceh, Drs. Taufan Pamungkas, M.Si., menyambut hadiah ini dengan penuh haru. "Sangat berarti," ucapnya. Ia melihat arsip-arsip tersebut bukan hanya sebagai dokumentasi sejarah, tetapi juga sebagai sumber inspirasi dan pembelajaran bagi generasi mendatang.
Taufan juga mengungkapkan rencana akan segera menjalin kemitraan dengan BAST ANRI dalam memanfaatkan arsip-arsip tersebut untuk konten siaran. "Banyak arsip yang terlupakan dan berharga. RRI punya fasilitas untuk mempublikasikan lewat penyiaran. BAST ANRI punya arsip sebagai data atau bahan kita untuk konten. Bisa berita, dokumenter, dll. Atau kemasan apa pun biar masyarakat, khususnya Aceh, bisa belajar dan ambil pelajaran dari sejarah melalui RRI Banda Aceh," ungkapnya semangat.
Kisah RRI Aceh adalah bukti nyata bahwa semangat pantang menyerah dan dedikasi untuk melayani masyarakat dapat mengatasi segala rintangan. Dari puing-puing tsunami, RRI Aceh bangkit dan terus mengudara, menjadi suara yang menginspirasi dan menyatukan bangsa.
Di usia yang ke-79, RRI Aceh siap menghadapi tantangan zaman digital dengan semangat transformasi dan inovasi. Mereka adalah bukti nyata bahwa radio, sebagai media tertua, tetap relevan dan memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat. Sekali di Udara, Tetap di Udara! (*)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....