KPK Ajak Pelajar Bangun Integritas dan Budaya Antikorupsi dari Kebiasaan Kecil

  • 20 Agt 2026 09:20 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • KPK menyelenggarakan Youth Camp 2026 sebagai upaya mendorong pelajar membangun budaya antikorupsi melalui penerapan nilai integritas.
  • Peserta program tidak hanya menerima materi pembelajaran tetapi juga diarahkan menyusun Student Integrity Project berbasis isu nyata di lingkungan sekitar mereka.
  • Medio Venda, Kepala Satuan Tugas Direktorat Sosialisasi dan Kampanye Antikorupsi KPK, menekankan pentingnya mengubah kebiasaan sederhana menjadi aksi nyata dalam pemberantasan korupsi.

RRI.CO.ID, Jakarta – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mendorong pelajar mengubah kebiasaan sederhana menjadi aksi nyata untuk membangun budaya antikorupsi. Upaya tersebut dilakukan melalui Youth Camp 2026 yang mengajak generasi muda menerapkan nilai integritas.

Kepala Satuan Tugas Direktorat Sosialisasi dan Kampanye Antikorupsi KPK, Medio Venda, mengatakan peserta tidak hanya menerima materi. Mereka juga diarahkan menyusun Student Integrity Project berdasarkan isu di lingkungan sekitar.

“Yang kita tawarkan dalam workshop ini tentunya memang sesuatu yang mungkin bisa disebut sebagai sesuatu yang ringan, bisa dipahami oleh masyarakat, khususnya para pelajar nanti yang mengikuti. Tapi juga ini memicu praktik-praktik baik dari mereka,” ujar Medio saat berbincang dengan PRO 3 RRI pada Rabu, 19 Agustus 2026.

Peserta kemudian diminta mengimplementasikan proyek tersebut dan mengukur hasilnya secara mandiri. Medio mengatakan pendekatan itu membuat peserta memikirkan tindakan yang bisa dilakukan berdasarkan pengetahuan mereka.

“Selain itu setelah mereka memformulasikan dan mengimplementasikan, mereka bisa mengukur sendiri keberhasilan dari proyek-proyek mereka. Jadi melalui program ini, nanti kita tanya mereka apa yang bisa kamu lakukan dari yang sudah kamu ketahui,” kata Medio.

Menurut Medio, proyek integritas tidak harus berbentuk kegiatan besar atau rumit. Pelajar dapat memulainya dari persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, sepeerti kebiasaan mencontek.

Ia juga mencontohkan warung kejujuran sebagai cara sederhana mengenalkan praktik integritas kepada pelajar. Melalui kegiatan tersebut, siswa dapat berlatih jujur meski tidak selalu berada dalam pengawasan.

“Itu bisa jadi sampel sosial mengenai bagaimana integritas itu terbentuk dalam lingkungan mereka dan hal-hal sederhana inilah yang coba kita angkat. Mereka aware, mereka ketahui, dan akan membuka pemikiran mereka bahwa isu integritas itu akan menjadi PR kita bersama,” kata Medio.

Selain proyek integritas, peserta juga mengembangkan Student Journalism Project untuk melaporkan aksi yang mereka lakukan. Proyek tersebut diarahkan untuk melatih kemampuan berpikir kritis sekaligus menyampaikan persoalan dan solusi.

Medio mengatakan peserta terlibat sejak tahap perencanaan, pelaksanaan, hingga pengukuran hasil proyek. Setelah kembali ke sekolah, mereka memiliki waktu satu bulan untuk mengembangkan proyek dan melaporkannya melalui karya jurnalistik.

Menurut Medio, pendekatan tersebut penting karena budaya korupsi dapat berawal dari kebiasaan kecil yang dianggap lumrah. Pendidikan antikorupsi perlu membentuk pemahaman bahwa keberanian, kejujuran, dan kedisiplinan harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

KPK menyasar generasi muda karena mereka akan menjadi bagian dari pemangku kepentingan pada masa depan. Medio menilai pembekalan integritas sejak dini merupakan investasi untuk membentuk karakter generasi penerus bangsa.

“Anak muda itu 5-10 tahun mendatang akan menggantikan kita semua. Kalau mereka tidak dibekali dengan integritas yang baik. Apa yang bisa kita harapkan dari mereka ketika menjadi pemimpin? Bukan berarti kita tidak peduli dengan generasi sebelumnya,” ucap Medio.

“Tapi ini adalah benih yang harus kita coba pupuk dan awasi perkembangannya karena kalau kita ingin mereka baik. Berarti kita harus investasi lebih banyak dalam kebaikan tersebut,” ujar Medio, menjelaskan.

Melalui Youth Camp 2026, KPK berharap pelajar tidak berhenti sebagai peserta kegiatan. Aksi sederhana yang dilakukan secara konsisten diharapkan dapat berkembang menjadi budaya integritas di lingkungan mereka. (Shafira Nursyifa)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....