• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Iptek

Kadis Pendidikan Kubar Ajak PGRI Bantu Pemerintah Cetak Guru Profesional

15 November
20:41 2019
0 Votes (0)

KBRN, Sendawar : Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Kutai Barat (Kubar), Kalimantan Timur Silpanus Ngampun menyebut, lebih dari seribu guru di wilayah setempat belum memenuhi standar undang-undang. Baik dari segi pendidikan maupun kompetensi. Sehingga butuh peran serta semua pihak terutama Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), guna mencetak guru yang profesional.

“Masih ada seribu lebih guru kita yang berpendidikan SMA bahkan ada yang paket C. Kemudian ada juga yang belum memiliki sertifikat guru. Nah ini saya berharap dinas bisa dibantu PGRI. Bagaimana kita bisa mengejar ketertinggalan ini supaya guru-guru kita betul-betul menjadi guru yang profesional,” kata Silpanus Ngampun saat membuka kegiatan konferensi kerja Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) kabupaten Kubar masa bhakti ke XXI, di Hotel Sidodadi kelurahan Simpang Raya kecamatan Barong Tongkok Jumad (15/11/2019).

Menurut Silpanus, masa depan anak didik ada di tangan guru sehingga penguatan kompetensi harus jadi perhatian PGRI sebagai organisasi yang mewadahi para guru.

“Sebenarnya untuk pengembangan karir dan profesi, dinas pendidikan setiap tahun menganggarkan biaya supaya guru-guru ini bisa ikut diklat. Termasuk diklat untuk mendapatkan sertifikasi,” ujarnya.

“Karena saya prihatin dari sekian guru yang ikut seleksi akademik hanya sedikit yang lulus. Tahun lalu hanya sekitar 135 yang lulus, kemudian tahun ini ikut PPG. Tapi dari yang ikut seleksi PPG itu masih ada sebagian tidak lulus dan ikut ujian berulang-ulang. Makanya saya kira ini perlu perhatian dan dukungan PGRI,” pinta Silpanus.

Di sisi lain lanjut Silpanus, untuk mengadakan bimtek sertifikasi guru membutuhkan biaya besar. Untuk itu dia menyarankan PGRI dan anggotanya bisa melakukan diklat mandiri.

“Kalau menunggu dinas pendidikan yang mengadakan diklat dalam setahun hanya berapa kali. Karena keterbatasan anggaran. Sehingga banyak guru terutama guru yang mengajar bukan mata pelajaran ujian nasional sering dianaktirikan. Karena dari pusat (Kemendikbud) biasanya yang diundang guru Fisika, Matematika atau Bahasa Inggris. Tapi guru-guru yang lain jarang dapat undangan. Makanya ada guru yang puluhan tahun tidak pernah naik pangkat,” bebernya.

“Kedepan saya sarankan guru yang sudah bersertifikat, sisihkan antara 5-10 persen untuk pengembangan profesi, ikut latihan secara mandiri. Saya akan mengundang narasumber yang bagus dari luar atau orang PGRI laksanakan diklat di sini tapi bayar sendiri. Kalau menunggu dinas lambat,” kata mantan guru yang mengjar sejak 1984-2002 tersebut.

Sementara anggaran pendidikan menurut mantan pejabat dinas pariwisata Kubar itu mayoritas dihabiskan untuk gaji dan tunjangan guru. Sehingga kegiatan lain banyak terbengkalai.

“Dinas pendidikan itu dapat anggaran nomor dua setelah PUPR. Ratusan miliar tetapi lebih dari Rp 100 miliar itu untuk belanja pegawai. Apalagi sekarang gaji guru SD masuk ke disdikbud. Itu sebabnya mengapa kegiatan seperti pelatihan, perbaikan gedung dan sarana prasarana lambat sekali karena uangnya terkuras untuk belanja pegawai,” rincinya.

“Anggaran pendidikan yang bilang 20 persen itu juga sebagian ke dinas lain. Kita hanya sekitar 15 persen. Makanya saya harap PGRI memberikan pencerahan ke guru-guru kita,” tutup mantan pejabat setda Kubar itu.

Baca Juga: Ribuan Guru di Kutai Barat Belum Sertifikasi

Menanggapi hal itu ketua PGRI Provinsi Kaltim Musyahrim mengaku sudah ada kebijakan internal melalui iuran bulanan. Namun urun rembuk para guru ini belum mampu membiayai kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan peningkatan profesi guru.  

“Kita ini sebenarnya ada iuran wajib Rp 4.000 per bulan. Tapi justru nilai yang kecil ini banyak yang nungggak. Padahal iuran ini bisa kita gunakn untuk kegiatan bimtek, work shop atau pelatihan untuk peningkatan kompetensi guru. Karena kita ini adalah tenaga profesional bukan struktural,” katanya.

“Tapi kami mengapresiasi dinas pendidikan Kubar yang sudah menyiapkan anggaran khusus untuk kawan-kawan guru menghadapi uji kompetensi guru. Karena itu biayanya besar. Misalnya untuk PPG kan harus bayar karena lembaga perguruan tinggi yang menyelenggarakan. Ini difasilitasi oleh dinas itu satu hal yang positif,” tambah mantan kadis pendidikan Kaltim tersebut.

Musyahrim mengajak para guru untuk tidak menunggu tapi terus berinovasi secara mandiri guna menghadapi berbagai tantangan di dunia pendidikan. Terutama menghadapi revolusi industri generasi ke 4 atau 4.0 yang berkembang pesat saat ini.

“Jadilah guru yang profesional yang betul-betul mencintai profesi. Dedikasi dan perjuangan kita juga harus ikhlas untuk memberikan yang terbaik bagi peserta didik kita. Karena hanya kitalah yang mempersiapkan generasi masa depan yang penuh dengan tantangan ini. Beda guru tahun 70-an dengan sekarang di masa revolusi industri 4.0 ini. Bagaimana mempersiapkan, menjaga, mendidik supaya kita bisa bersaing,” tandasnya.

Senada diungkapkan ketua PGRI Kabupaten Kutai Barat Raimundus. Menurutnya sebagai organisasi independen PGRI dituntutu terus berbenah diri termasuk mempersiapkan para guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa di republik ini agar semakin profesional. Apalagi PGRI akan genap berusia 74 tahun pada 25 November mendatang.

“Sebentar lagi kita akan berulang tahun yang ke-74. PGRI hingga kini didedikasikan untuk bangsa dan negara melalui perjuangan untuk memajukan pendidikan nasional serta meningkatkan harkat dan martabat guru. Dedikasi ini yang harus terus dikukuhkan sejalan dengan perubahan dan perkembangan zaman,” jelas Raimundus.

Sebagai informasi data pokok pendidikan dasar dan menengah (dapodik) kemendikbud menyebut, jumlah guru PNS di Kutai Barat pada semester 2019/2020 tercatat sebanyak 3.507 orang. Terdiri dari 1.327 guru laki-laki dan 2.180 guru perempuan yang tersebar di 16 Kecamatan.

Dengan rincian guru SD 2.101 orang, SMP 1.402 orang, SMA 341 orang dan SMK 253 orang. Jumlah sekolah sebanyak 302 buah mulai dari SD sampai SMA baik swasta maupun negeri.

Jika ditambah guru PTT sebanyak 2.412 orang maka jumlah total guru di Kubar mencapai 5.919 orang. Ini belum termasuk guru honorer serta guru PAUD/TK.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00