Cerita Presiden Jokowi Terkait Pengalihan Subsidi BBM

  • 11 Okt 2024 20:27 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Presiden Joko Widodo (Jokowi) bercerita terkait keputusannya pengalihan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) di awal pemerintahan. Meskipun keputusan tersebut sempat menurunkan tingkat kepercayaan publik, menurutnya langkah tersebut memberikan ruang fiskal besar untuk pembangunan infrastruktur.

"Saat itu saya ingat approval rating saya 72 (persen) karena menaikkan BBM, saya melorot menjadi 43 persen. Tapi sudah saya hitung, itu sebuah risiko yang memang harus saya ambil," kata Presiden saat menghadiri Kompas 100 CEO Forum ke-15 Tahun 2024, di Istana Garuda, Kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN), Jumat (11/10/2024).

"Memutuskan sesuatu yang memang kira rencanakan, kita ukur dan berani atau tidak saya putuskan berani," ujar Presiden. Presiden menjelaskan, anggaran yang tersedia dari pengalihan subsidi tersebut telah digunakan untuk membangun infrastruktur vital di seluruh Tanah Air.

Mulai dari jalan desa sepanjang 366 ribu kilometer, 6.800 embung, hingga 14.700 pasar desa. Ia menekankan pentingnya pembangunan jalan desa yang berperan sebagai jalur produksi bagi petani dan pekebun.

"Itu adalah jalan-jalan produksi yang sangat penting bagi petani, jalan-jalan produksi yang sangat penting bagi para pekebun," ucapnya

Tak hanya infrastruktur skala kecil, Presiden Jokowi juga menyoroti pembangunan skala besar. Diantaranya pembangunan jalan tol sepanjang 2.433 kilometer, 26 bandara baru, dan 53 bendungan baru yang dilengkapi jaringan irigasi seluas 1,2 juta hektare.

Infrastruktur tersebut dinilai telah mampu menurunkan biaya logistik dari 24 persen menjadi 14 persen. Selain itu mengurangi jumlah desa tertinggal dari 47 ribu menjadi 10.400 desa.

"Pembangun infrastruktur itu telah menaikkan global competitiveness ranking kita dari 42 di 2015 sekarang di ranking 27. Dan juga telah menaikkan global innovation ranking dari 97 melompat ke 54," katanya

"Pembangunan itu ada hasil-hasil yang konkret yang akan memperkuat daya saing kita, competitiveness kita akan naik," ucap Presiden. Presiden Jokowi juga menekankan pentingnya bersatu sebagai bangsa untuk menghadapi ketidakpastian global.

Meski saat ini hampir semua negara di dunia mengalami ketidapastian, namun pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berada di atas 5 persen. "Sudah saatnya bangsa kita sekarang ini berkonsolidasi, bangsa ini harus berkonsolidasi, negara ini harus berkonsolidasi," ujarnya.

"Semua harus kompak, semua harus bersatu karena dunia sekarang ini. Hampir semua negara mengalami dan dunia mengalami tidak jelas semuanya, tidak pasti semuanya," kata Presiden.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....