• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Editorial

Apa kabar program Nawa Cita, Revolusi Mental yang digagas Presiden Joko Widodo?

13 June
11:42 2018
0 Votes (0)

Selamat pagi,

Masifnya pembangunan infrastruktur yang dilakukan pemerintahan Jokowi-JK saat ini membuat publik, termasuk para pemudik yang  saat ini melewati ribuan kilometer jalan- jalan baru tersebut merasa lebih lancar, lega dan lebih nyaman dibandingkan tahun sebelumnya.

Di tengah- tengah gencarnya pembangunan infrastruktur tersebut,  tentu tidak semulus jalan yang telah dibangun,  namun  memunculkan riak- riak politik dan kritisi dari sejumlah politisi.

Riak-riak politik dan kemudian ada  yang menyebut dengan istilah "vandalisme politik" adalah cukup wajar terjadi menjelang  Pemilu dan Pilpres, terutama dipublikasikan melalui media massa, media sosial dan berbagai pertemuan publik.

Salah satu kritisi datang dari Ketua Komandan Tugas Bersama (Kogasma) Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang  menyinggung soal program rovolusi mental yang dianggap mulai dilupakan, karena Pemerintah sekarang fokus pada pembangunan infrastuktur dan konektivitas antar wilayah.

Kita teringat pada pernyataan seorang Pengusaha yang juga pendiri PT Saratoga Investama Sedaya, Sandiaga Uno pada tanggal 3 September 2014 (atau jauh sebelum terpilih menjadi Wakil Gubernur DKI Jakarta),  pernah menyatakan  bahwa  negara memerlukan  revolusi mental yang menjadi visi misi presiden Jokowi, karena dengan  revolusi mental akan bisa membantu negara membangun  infrastruktur.

Dikatakan pada tahun 2014 itu  bahwa  banyak proyek infrastruktur yang mangkrak karena kurangnya disiplin para pengembang.

Kita lihat sendiri sekarang bahwa banyak infrastruktur baru telah dibangun, baik berupa jalan toll, irigasi, waduk, bandara, pelabuhan laut, terminal, stasiun kereta dan jalan umum yang semakin maju dan modern.

Menurut  Presiden Joko Widodo bahwa  alasan melakukan pembangunan infrastruktur antara lain  untuk menekan ketimpangan, Indonesia di wilayah Timur dengan Indonesia wilayah barat.

Pembangunan infrastruktur, termasuk pembangunan Trans Papua dan Trans Kalimantan bukan hanya berhubungan dengan masalah ekonomi, melainkan juga upaya mempersatukan bangsa.

Keberhasilan dalam pembangunan infrastruktur ini justru berkat terjadinya perubahan karakter bangsa dari semua unsur, termasuk  disiplin dan komitment para pengusahanya maupun rakyat yang bersedia membebaskan tanahnya untuk fasilitas publik tersebut.

Kita bisa  lihat juga sekarang meningkatnya disiplin masyarakat ketika antri baik di stasiun kereta api, pelabuhan, bandara maupun tempat-tempat publik lainnya.

Ada seorang masyarakat yang menulis pengalaman di medsos bahwa empat tahun lalu ketika naik kereta api di satu stasiun untuk masuk dan ke luar saja harus berebut, namun sekarang sudah antri dengan disiplin.

Demikian juga jalan toll yang dikritisi hanya untuk yang punya mobil saja dan bukan untuk rakyat kecil. Padahal jalan toll juga digunakan untuk bus pengangkut penumpang dan truk pengangkut barang.

Jadi, itulah revolusi mental yang juga dapat ditata dari tersedianya infrastruktur dan konektivitas yang nyaman, baik dan modern.

Pemerintah  juga tetap secara  paralel memfokuskan pada revolusi mental dengan membangun kembali karakter bangsa antara lain   melalui  Unit Kerja Presiden bidang Pembinaan Ideologi Pancasila yang justru ditingkatkan statusnya menjadi Badan Pembinaan Ideologi Pancasila.

Program  revolusi mental dengan membangun karakter bangsa kita ketahui  berarti telah berjalan secara paralel dengan program lainnya  sesuai dengan  program  dalam Nawa Cita yang dicanangkan Presiden Joko Widodo sejak  kampanye Pilpres 2014 lalu.

Tentunya kita sepakat bahwa Gerakan  revolusi mental  dan pembangunan infrastruktur itu   bertujuan sangat  mulia untuk mengembalikan karakter bangsa sesuai dengan bentuk aslinya yakni santun,  berbudi pekerti, serta bergotong royong, termasuk dapat  menjadi kekuatan membangun persatuan, kesejahteraan dan  kemajuan bangsa.

Demikian komentar.

Tentang Penulis

Ida Bagus Alit Wiratmaja

Redaktur Senior

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00