• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Editorial

Koalisi Keumatan, antara Mimpi dan Realita

12 June
08:27 2018
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Baru baru ini Mantan Ketua MPR Amin Rais, Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dan sejumlah tokoh menjalani ibadah umroh. Di Arab Saudi, mereka juga sempat bertemu dengan Riziq Syihab yang dikenal dengan sebutan Habib Rizieq. Sejumlah pihak menyebut kegiatan itu adalah umroh politis dan sebagian yang lain adalah menyebut umroh biasa. Terlepas dari hal itu, secara faktual ada pertemuan dan dibuktikan dengan gambar foto yang diedarkan. Sempat pula dalam beberapa diskusi muncul gagasan koalisi untuk mengusung Calon Presiden tahun 2019. Kelompok ini, adalah mereka yang secara politik berbeda pandangan dengan koalisi yang dibangun PDI Perjuangan. Koalisi yang dibangun PDI Perjuangan saat ini masih kokoh memerintah negeri ini dengan menempatkan Joko Widodo sebagai Presiden Republik Indonesia, dan akan dicalonkan kembali dalam Pemilihan Presiden 2019. Dalam beberapa survey, Joko Widodo diperkirakan akan terpilih kembali bila pemilihan presidennya dilakukan saat ini. Lalu bagaimana dengan kans pesaingnya. Rupanya, kelompok pesaing yang paling keras ingin berkompetisi dengan koalisi tersebut, yakni Gerindra dan PKS belum juga solid mengajukan calon. Gerindra sendiri, sudah memberi amanah bagi Prabowo untuk menentukan calon Presiden 2019, akan tetapi sampai sekarang belum juga mendeklarasikan diri. Sementara PKS masih dalam posisi menunggu sebagai calon Wakil Presiden. Yang menarik adalah PAN. Salah seorang sesepuh mereka, Amin Rais, justru sudah mendeklarasikan diri sebagai calon Presiden. Bisa jadi, Ada nostalgia lama yang belum terwujud dan juga ada keinginan seperti Mahatir Muhammad di Malaysia. Gagasan kelompok ini ingin membangun koalisi dengan sebutan koalisi keumatan. Harapan, mimpi, dan realita, sejatinya dipertimbangkan juga dalam koalisi ini. Akan tetapi ada baiknya, bila sebutan yang digunakan bukan koalisi keumatan. Kata Umat lebih dekat dengan Islam. Padahal, koalisi tersebut sangat plural. Pada sisi lain, koalisi PDI Perjuangan dan kawan kawan, jaga plural, dan didalamnya ada pula umat Islam. Artinya, penyebutan koalisi keumatan akan potensi memunculkan disintegrasi sosial. Sedangkan sesungguhnya negara ini sedang memerlukan kohesi bangsa untuk menghadapi tantangan global. Di dalam Islam sendiri, menjaga ukhuwah Islamiyah itu wajib, sedangkan demokrasi pemilihan Presiden adalah mubah. Dalam konteks ini tentu kita akan mengutamakan yang wajib daripada yang mubah. (Foto : Panjimas)

Tentang Penulis

Widhie Kurniawan

Kapuspem RRI

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00