• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Editorial

Sistem dan Perizinan, Penghambat perluasan inklusi keuangan di Indonesia

14 February
08:24 2018
0 Votes (0)

Disusun Oleh: Ida Bagus Alit Wiratmaja SH MH

KBRN, Jakarta : Kemudahan akses layanan atau inklusi jasa keuangan di Indonesia belakangan ini mengalami  kemajuan yang cukup cepat berkat kemajuan teknologi, walaupun tidak secepat negara maju lainnya.

Pada tahun 2011, angka inklusi keuangan di Indonesia  baru mencapai 20 persen, kemudian Pemerintah, Bank Indonesia dan Lembaga Keuangan lainnya telah   mendorong angka inklusi keuangan menjadi 36 persen pada tahun 2014 dan bahkan di tahun 2017 bisa mencapai hampir 70 persen.

Oleh sebab itu Presiden Joko Widodo   menargetkan inklusi keuangan  di tahun 2019 mencapai 75 persen.

Untuk mencapai  target tersebut, maka Presiden menyatakan  pentingnya peningkatan inklusi keuangan ini yang harus  didorong melalui penyederhanaan sistem dan segala bentuk perizinannya.

Sebagaimana kita ketahui, Pemerintah  di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo terus mendorong kemudahan akses  atau inklusi  keuangan untuk masyarakat di seluruh wilayah .

Kalau  masalah sistem dan ruwetnya perizinan yang  belum bisa  diselesaikan, maka berdampak pada kecepatan yang diinginkan.

Pemerintah dalam programnya  ingin semua masyarakat bisa mengakses ke perbankan, bisa mengakses ke sektor keuangan yang ada secara sederhana dan cepat.

Semua  masyarakat, terutama usaha mikro  hendaknya  bisa masuk ke banking system, bisa masuk ke sistem keuangan, sehingga mereka mendapatkan kemudahan akses untuk memperoleh permodalan.

Menurut Menko Perekonomian Darmin Nasution bahwa Pemerintah  mulai  dari posisi yang masih agak tertinggal dari banyak negara lain,  namun sejak  18 bulan yang lalu pemerintah sudah mengembangkan beberapa program, misalnya ada program PKH (Program Keluarga Harapan) yang menggunakan rekening, bahkan telah menyasar  enam juta keluarga.

Inklusi keuangan lainnya adalah dalam bentuk  bantuan Non Tunai yang baru dikerjakan 1,2 juta,  dan  program KUR atau Kredit Usaha Rakyat empat juta keluarga.

Program   BPJS  juga telah menggunakan rekening, sehingga  kalau diakumulasi  selama 1,5 tahun terakhir ini sudah mendorong terciptanya beberapa puluh juta rekening.

Selain itu juga  ada enam juta Program Keluarga Harapan dan ada Rastra  1,2 juta, disamping juga ribuan rekening penyaluran bantuan  untuk  beasiswa.

Sebagaimana harapan Presiden Joko Widodo yang menekankan pentingnya penyederhanaan sistem perbankan supaya memudahkan masyarakat dalam mengakses industri keuangan.

Menurut Bank Indonesia, penggunaan teknologi finansial  atau financial technology akan sangat diandalkan dalam mencapai target inklusi keuangan yang  ditetapkan oleh  Presiden Joko Widodo.

Sebab, dengan  Fintech akan  mampu memberikan dorongan bagi pertumbuhan makro ekonomi.

Namun, di sisi lain, fintech juga memiliki sejumlah risiko, seperti halnya lembaga keuangan lainnya. Risiko tersebut antara lain ketidakcocokan likuiditas (liquidity missmatch), ketidakcocokan jangka waktu pinjaman (maturity missmatch) dan serangan siber (cyber attack).

Oleh sebab itu,  perkembangan fintech yang cukup pesat harus dibarengi dengan regulasi yang kondusif.

 Bank Indonesia kita harapkan tetap  prudent dengan financial stability, karena perkembangan  fintech dengan konsekuensi harus dibuatkan peraturan yang mendorong, tetapi prudent, dan menciptakan iklim bisnis yang kondusif.

Industri keuangan berbasis teknologi atau fintech di Indonesia akan membuka  peluang bisnis besar dengan adanya   generasi millenial sebagai segmen paling potensial.

Penyediaan  platfrom kartu kredit virtual misalnya akan bisa menyasar  kaum profesional muda yang sulit mendapat akses kartu kredit.

Dengan perluasan inklusi keuangan melalui  penyederhanaan perizinan dan kemudahan sistemnya, maka kita harapkan tingkat akses layanan  jasa keuangan di Indonesia sama dengan negara lain yang sudah maju, minimal seperti India.

Tentang Penulis

Ida Bagus Alit Wiratmaja

Redaktur Senior

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00