• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Editorial

Pancasila Mengajarkan Bangsa Indonesia Seragam Memaknai Keberagaman

13 February
13:41 2018
2 Votes (4.5)

Disusun Oleh : Besty Charmin Simatupang

KBRN, Jakarta : Slogan Saya Indonesia, saya Pancasila diciptakan dengan tujuan mulia, agar kaum muda, semakin mempertegas idiom tersebut  untuk lebih mencitai negaranya juga mencintai falsafah negara ini dengan nilai-nilai yang dikandung dalam Pancasila.

Sayang, cita-cita luhur itu tercoreng oleh perilaku yang jauh dari nilai-nilai pancasila. Slogan saya pancasila, hanya sekedar slogan, tanpa bermakna apa-apa.  Tercoreng, akibat ulah anak muda yang mengaku mahasiwa, yang  dijuluki manusia intektual itu,  menyerang sebuah gereja di Sleman Yogyakarta.


Ironis, tragis entah kata apa yang pantas mewakili hati yang tercabik-cabik atas perbuatan yang tidak menggunakan akal sehat itu?. Ber-Tuhankah Ia ? memiliki landasan keagamaan yang kuatkah Ia ? Jawabnya ya, pasti, karena alasan yang digunakan dalam  menyerang gereja dan melukai tokoh agama  karena pelaku terpanggil untuk berjihad di jalan penciptanya, agama lagi-lagi menjadi topeng.

Kita pastinya sedih dan mengutuk perbuatan keji itu, bagaimana tidak, pelaku kekerasan dan penyerangan itu selalu menggunakan alasan yang sama dengan motif latar belakang berbagai upaya yang membenturkan antar umat beragama dengan menyerang tokoh-tokoh umat, tempat ibadah atau kegiatan keagamaan. Emosi kita terpancing, untuk memelihara kerukunan yang merupakan tantangan serius bagi Indonesia di tengah-tengah keberagaman.  

Insiden penganiayaan yang tengah marak terhadap para pemuka agama tidak hanya terjadi terhadap Romo Prier yang tengah memimpin misa di gereja St. Lidwina, Sleman, Yogyakarta,  Ustadz diserang  'OGGB (orang gila gaya baru)',  Ulama dikriminalisasikan. Pesantren disatroni  tokoh Budha pun diusir. Kemana Negara?
Padahal semua   tahu bahwa ongkos sosialnya terlalu mahal jika terjadi konflik bernuansa Sara?

Atas semua peristiwa ini, apapun alasannya negara harus hadir. Negara punya mandat menghentikan perilaku tak beradab itu.  Siapun pelaku dan aktor intelektualnya harus diusut tuntas.  Negara khususnya pemerintah harus hadir dan memastikan bahwa peristiwa-peristiwa yang jauh dari keadaban ini tidak terulang lagi di masa mendatang.
Kita berharap perstiwa keji itu memang terjadi akibat ketidak tahuan dan kekurang pahaman pelaku dalam menyikapi sebuah ajaran, atau doktrin sesat bukan karena adanya politisasi agama menjelang pemilukada dan pemilu 2019.

Masyarakat Indonesia, yang kita ketahui  pada realitasnya agamis.  Artinya, bangsa yang menjalani nilai-nilai kehidupannya tidak bisa dipisahkan dengan nilai-nilai agama. Akan tetapi, tidak bisa kemudian atas nama agama, masyarakat itu berpolitik praktis yang sangat pragmatis, yang dengan menggunakan agama untuk memobilisasi, mengagregasi kepentingan yang tujuannya untuk politik praktis atau pragmatis semata. Ini harus benar benar kita hindari.


Karena itu,  perlu adanya batasan yang disepakati bersama antar semua pemuka umat beragama. Hal itu agar umat jangan sampai masuk dan terjerumus ke dalam politik praktis yang memperalat agama.   Karena sesungguhnya Pancasila mengajari kita untuk seragam dalam memahami keberagaman. (BCS/DSy)

Tentang Penulis

Dadan Sutaryana

Redaktur Puspem

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00