• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Editorial

Tragis, Jalan Raya kembali mebuktikan sebagai Pembunuh Utama

12 February
09:00 2018
1 Votes (5)

KBRN, Jakarta : Hanya satu kata untuk menggambarkan kecelakaan Bus Pariwisata di kawasan Subang akhir pekan lalu. Tragis. Bagaimana tidak disebut tragis bila korban meninggal jumlahnya mencapai 27 orang serta sejumlah korban luka-luka lainnya. Dalam sejumlah tayangan media sosial ditampakkan tubuh korban berserakan di tepi jalan.

Tragis. Jumlah 27 orang tersebut seolah mengawali rentetan kecelakaan di Jalan Raya yang meyebabkan banyak korban tewas. Ribuan orang tewas di Jalan Raya. Data pastinya memang belum dimunculkan secara resmi untuk total se Indonesia, akan tetapi beberapa laporang dapat menjadi indikator jumlah korban tewas.

Dalam rangkaian mudik dan balik lebaran 2017 lalu saja, menurut catatan Korlantas Polri ada 742 orang tewas di jalan Raya hanya dalam waktu 2 minggu. Sementara, di Jawa Barat pada tahun 2017 ada korban tewas mencapai 2 ribu 317 orang. Dalam catatan Polda Jawa Barat, Angka ini naik dibandingkan tahun 2016 yang hanya 1733. Setiap hari ada 5 orang tewas di Jabar karena kecelakaan lalu lintas. Sedangkan di Ibukota jakarta, 529 orang tewas di jalan raya sepanjang 2017. Di seluruh Indonesia, bila ditotal, ada ribuan orang tewas di Jalan raya.

Tragis, Ketika ada korban tewas, maka tidak sedikit di antara mereka adalah kepala keluarga yg selama hidupnya menjadi tulang punggung keluarga. Artinya, korban tewas di jalan raya juga menimbulkan kekacauan hidup keluarga. Dalam catatan Jasa Raharja, Korban tewas di Jalan Raya menyebabkan pemiskinan keluarga sampai 7%. Angka kematian di Jalan Raya mengalahkan jumlah korban perang, korban hempa bumi dan korban penyakit menular.

Namun  sayang, tidak pernah menjadi perhatian serius. Presiden Jokowi dodo sibuk membangun jalan raya dan infrastruktur, namun di situlah korban tewas semakin bertambah.
Dalam kondisi semacam ini, harusnya ada gerakan nasional mengatasi kecelakaan lalu lintas. Gerakan ini penting karena jumlah korban tidak sedikit. Padahal di negara maju, jumlah kecelakaan dapat ditekan.  

Di ASEAN,  Indonesia termasuk yang sangat tinggi kecelakaan lalu lintas. Padahal di Singapura dan Brunei, kecelakaan sangat rendah,. Artinya, penanganan lalu lintas ini masih dapat diminimalisir.
Pemerintah Jokowidodo tampak tidak serius mengatasi kecelakaan di jalan raya. Pada peristiwa kecelakaan di tanjakan emen, Subang akhir pekan kemarin, Presiden Jokowidodo tidak tampak memberikan respon. Sayang. Ini salah satu indikator bahwa Presiden Jokowidodo tidak responsif dan serius dalam mengatasi kecelakaan di jalan raya.

Tentang Penulis

Widhie Kurniawan

Kapuspem RRI

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00