• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Nasional

Wiranto Diduga Korban Kegagalan Koordinasi BNPT dan Densus 88?

21 November
17:42 2019
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Dalam Rapat Kerja (Raker) antara Komisi III DPR RI dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengemuka juga pertanyaan soal kinerja dan sinergi BNPT dengan Densus 88 dalam mencegah aksi teror. Salah satu yang mengemuka dalam raker tadi siang adalah aksi teror yang berhasil melukai pejabat negara, Menko Polhukam Wiranto beberapa waktu lalu di Pandeglang, Jawa Barat.

BNPT mengklaim telah memberikan info intelijen kepada Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Mabes Polri sebelum Wiranto diserang menggunakan senjata tajam oleh pasangan suami istri di Pandeglang, Banten pada 10 Oktober lalu. 

Deputi Bidang Penindakan dan Pembinaan Kemampuan BNPT, Brigjen Pol Budiono Sandi menjelaskan, info intel yang diberikan pihaknya itu terkait dengan jaringan terorisme di Pandeglang.

"Kami sampaikan bahwa dalam kasus kejadian Wiranto dari BNPT sudah memberi masukan. Kami input pada Polri khususnya Densus 88, baik berupa informasi intelijen dan lainnya, terkait jaringan terorisme di Pandeglang yang berpotensi melakukan serangan teror," ucap Budiono di Ruang Raker Komisi III, Kompleks Parlemen Senayan Jakarta, Kamis (21/11/2019). 

Meskipun begitu, Budiono memperkirakan Densus 88 sebagai pihak yang memiliki kewenangan dalam melakukan penindakan mempunyai mekanisme tersendiri untuk merespons setiap informasi yang diberikan pihak lain.

BACA JUGA: Komisi III DPR Pertanyakan Kinerja BNPT Mencegah Teror

Mendapat penjelasan itu, anggota Komisi III dari Fraksi PDI Perjuangan, Marinus Gea kemudian bertanya soal Polda Banten dan Densus 88 yang memang tidak ada di lokasi saat Wiranto berhasil dilukai. Dirinya menduga, informasi yang diberikan BNPT kepada Densus 88 'terputus di tengah jalan'.

Fakta di lapangan, kata Marinus, pada saat kejadian teror terhadap Wiranto, jajaran diduga Polda Banten tidak tahu. Kemudian Densus 88 sendiri diklaim Marinus tidak ada di tempat kejadian, kemudian tanda-tanda bakal ada aksi teror juga berdasarkan informasi yang didapatnya tidak ada di lapangan kala itu. 

"Bahkan temen-temen saya yang memang ada di lokasi, (melihat) sama sekali tidak ada kegiatan apa-apa untuk mendeteksi itu (aksi teror terhadap Wiranto). Itu persoalannya. Berarti kan (diduga) informasi itu terputus, atau jangan-jangan koordinasinya tidak sampai," ujar Marinus.

Menyambung Marinus Gea, Pimpinan Komisi III Adies Kadir akhirnya mempertanyakan peran BNPT sebagai garda terdepan dalam penanganan masalah terorisme. 

Seperti diberitakan RRI sebelumnya, setelah banyak argumen, tanya-jawab, kemudian pembeberan fakta antara Komisi III dengan BNPT, anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Supriansa akhirnya melontarkan kritik pedas. Dirinya langsung mengatakan sebuah pertanyaan, 'apakah masih perlu ada BNPT?'.

"Kepada Kepala BNPT dan jajarannya. Tidak mudah menjawab pertanyaan saya. Masih perlukah ada BNPT? Kalau masih perlu, apa kira-kira harapan masyarakat, NKRI, terhadap BNPT? Kalau (BNPT) tidak diperlukan lagi, apa kira-kira ancaman yang bisa akan dirasakan?" ucap Supriansa di Ruang Raker Komisi III, Kompleks Parlemen Senayan Jakarta, Kamis (21/11/2019).

BACA JUGA: Ternyata BNPT Tak Punya Data Soal Isu TNI Terpapar Radikalisme

Menurut Supriansa, pertanyaan ini merupakan wujud koreksi dari dirinya kepada BNPT. Karena baginya, banyak sekali pandangan yang beredar terkait keberadaan BNPT. Namun ia meminta jangan ditanggapi negatif, melainkan dengan semangat saling memperbaiki. 

Wakil Ketua Komisi III Adies Kadir juga mengatakan, pemberantasan terorisme tidak hanya bertumpu kepada BNPT. Masalah terorisme memerlukan koordinasi yang baik antar-stakeholder. Menyatukan seluruh stakeholder adalah sangat penting menurut Adies karena berkaitan kuat dengan banyak lembaga.

"Ini menyangkut banyak Kementerian, Kepolisian, TNI, BIN, Mendagri, Menkum HAM, Kementerian Agama, dan lain-lain. Nanti kami akan mengusulkan untuk rapat gabungan, rapat terpadu, betul-betul kupas satu persatu bagaimana strategi yang paling pas untuk menanggulangi terorisme yang akhir-akhir ini mulai bermunculan lagi," tutupnya.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00