• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Tanggap Bencana

Hadapi Asap Karhutla, Selama Ini Dinilai Keliru Memilih Masker

20 September
10:00 2019
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Dengan begitu masif Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di wilayah Sumatera dan Kalimantan, masker menjadi salah satu yang paling dicari. Penggunaan masker sebagai alat pelindung pernafasan mendadak jadi kebutuhan setiap orang.

Namun ada beberapa rumor yang sempat beredar di media sosial (medsos), salah satunya adalah masker yang digunakan oleh masyarakat selama ini merupakan masker medis, yang notabene bukan sebagai pelindung saluran pernafasan dari asap atau aroma berbahaya lainnya.

Blogger Purnawan Kristanto dalam tulisannya menjelaskan, sebenarnya ada dua jenis masker yang biasa digunakan masyarakat, yakni masker bedah dan kedua masker pernafasan. Dan masker yang banyak beredar di masyarakat adalah jenis yang digunakan untuk keperluan bedah. Masker ini selalu digunakan oleh tenaga medis yang berada di ruang operasi untuk menutup mulut dan hidungnya. Tujuannya supaya mereka tidak menularkan bakteri dan virus kepada pasien yang sedang dioperasi.

Dalam bencana kabut asap Karhutla sampai bencana abu vulkanik, penggunaan masker bedah sebenarnya tidak dianjurkan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI). Alasannya, air, udara dan debu masih bisa masuk melalui 'pori-pori' masker. Masker jenis ini harus diganti setiap empat jam sekali, karena uap air dari pernapasan bisa membuat masker basah dan merusak 'pori-pori'-nya.

Meski demikian, penggunaan masker ini masih lebih baik daripada tidak sama sama sekali asalkan dipasang dengan rapat. Kawat yang ada bagian hidung dibengkokkan dan tidak ada celah pada pinggir-pinggir masker sehingga memungkinkan masuknya material kabut asap Karhutla maupun abu vulkanik dari sisi samping masker.

Masker yang sebenarnya cocok untuk mencegah ganguan pernafasan adalah N-95 atau N-100. Masker ini menggunakan bahan mirip stereofoam, tebal, memiliki sungkup yang bisa menyaring udara masuk hingga 95 persen. Masker ini juga dilengkapi kawat yang bisa ditekan di atas hidung, sehingga memperkecil celah udara. Masker jenis ini sifatnya sekali pakai, namun bisa digunakan lebih lama, sekitar 2-3 hari. Sayangnya masyarakat tidak senang mengenakannya karena terasa pengap dan harganya 100 kali lebih mahal daripada masker bedah. Satu buah masker N-95 dibandrol sekitar Rp100-200 ribu.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00