• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Kolom Bicara

Urgensi Ukhuwah Islamiyah

17 May
08:28 2018
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta: Pernah suatu saat di tahun 2013, Umat Islam di Indonesia melaksanakan Iedul Fitri yang berbeda tanggal dan harinya.

Kalangan Muhamadiyah,  ketika itu menetapkan Iedul Fitri tanggal 9 Juli,  sedangkan Pemerintah dan kalangan Nanhdhlatul Ulama menyepakati tanggal 10 Juli.

Beberapa pemahaman minoritas seperti Satariyah bahkan sudah sholat Ied,  tanggal 8 Juli. Menariknya,  semua menyatakan hari raya Iedul Fitri adalah Satu Syawal. Berarti,  pada tahun 2013 masehi atau tahun 1433 hijriah ada tiga tanggal Satu Syawal. Masing-masing pihak ketika itu tetap pada posisinya,  yakni berada pada dua pandangan berbeda dalam menetapkan satu syawal.  Pihak Muhamadiyah di satu sisi menggunakan dasar Wujudul Hilal atau perwujudan anak bulan baru,  sedangkan Pemerintah dan NU menggunakan pemahaman Rukyatul Hilal atau penampakan Anak bulan baru.

Pemahaman ini kemudian diterapkan melalui sidang Itsbat sebelum Ramadhan atau sebelum Iedul Fitri. Bahkan di Arab Saudi juga ada sidang Istbat menetapkan Satu Dzulhijah sebagai penanda Ibadah Haji.

Pemahaman yang dijadikan rujukan itu memang sah dan kuat landasannya. Akan tetapi,  agak unik juga bila dalam satu bulan, ada 3 tanggal satunya. Bila kemudian pada hari ini seluruh umat Islam bersamaan waktunya melaksanakan awal Ramadhan, maka bisa jadi itu adalah satu kebetulan, artinya bisa jadi juga pada tahun depan atau beberapa tahun yang akan datang, awal Ramadhan atau penetapan satu syawalnya berbeda.

Sejumlah ulama kemudian menyebut,  bahwa perbedaan itu adalah rahmah, maka  sah saja pandangan tersebut, sebab juga memang ada dalilnya. Hanya saja,  dalam satu negara,  Indonesia,  alangkah elok dan indahnya bila kedua pemahaman tersebut dikomunikasikan. Agaknya,  di tengah banyaknya keragaman, maka bila ada kebersamaan,  pasti akan lebih nyaman. Semangatnya adalah Ukhuwah Islamiyah.

Ketika ada seorang ulama ditanya muridnya mengenai perbedaan pemahaman soal jumlah rakaat suatu sholat sunnah,  maka ulama tersebut balik bertanya, "mana yang lebih utama, melaksanakan sholat sunnah yang berbeda jumlah rakaatnya atau menjaga ukhuwah Islamiyah?  Sang Murid pun akhirnya paham, bahwa menjaga ukhuwah Islamiyah diperintahkan langsung oleh Allah Subhanahu wa taala dalam Quran, yang berarti hukumnya adalah wajib.

Demikian maka,  menjadi kewajiban negara juga untuk hadir menciptakan ukhuwah Islamiyah tersebut. Negara harus hadir dalam masalah seperti ini.  Komentar Disusun Widhie Kurniawan. (WK/ICP/Evie).

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00