• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Nasional

Lemhanas: Masyarakat Harus Jeli dalam Melihat dan Membedakan Berita Benar dan Berita Bohong

14 March
13:52 2018
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta: Menjelang bergulirnya Pemilihan Kepala Daerah Serentak di berbagai daerah di Indonesia, turut pula menuntut semua elemen dan pihak semakin waspada terhadap ancaman berita bohong. Sejumlah langkah dilakukan oleh pihak Kepolisian RI dalam menangkal dan menindak tegas penyebar berita bohong, seperti yang diinstruksikan oleh Presiden Joko Widodo. Lembaga Ketahanan Nasional mengapresiasi penegakan hukum yang dilakukan Kepolisian Republik Indonesia dalam menindak pelanggar dan penebar berita bohong atau hoax, khususnya menjelang pelaksanaan Pilkada Serentak 2018 dan Pemilu 2019. Gubernur Lemhanas Letjen (Purn) TNI Agus Widjojo menilai, masyarakat perlu mendapat edukasi agar jeli dalam melihat dan membedakan berita benar dan berita bohong.   

“Kembali kepada masyarakat, public dan perseorangan itu sendiri. Untuk bisa mempunyai kesadaran untuk membedakan mana itu berita yang benar dan mana berita bohong. Itu bisa disampaikan dengan melihat sebetulnya bahwa berita itu kalau dicek dengan berita lain sejajar ngga, sejalan ngga, saling mendukung ato ngga. Kalau berlawanan, maka patut kita pertanyakan. Yang kedua, siapa sumber yang melansir berita itu. Pasti sumber yang melansir berita itu punya reputasi, apakah reputasi dia baik,” jelas Agus kepada wartawan di Kantor Lemhanas usai menghadiri Forum Diskusi di Kantor Lemhanas pada Rabu (14/3/2018).

Agus pun menuturkan, rakyat Indonesia perlu ditingkatkan ketahanannya dalam menangkal hoax, karena dikhawatirkan dapat memecah belah masyarakat.

“Apabila masyarakat kita tidak ditingkatkan ketahanannya untuk menghadapi berita-berita bohong, maka kecenderungannya public akan mudah percaya kepada berita tersebut, padahal namanya juga berita bohong. Dan berita bohong yang jahat itu adalah yang punya intend, punya tujuan untuk memenangkan salah satu kontestan di dalam pemilihan umum ini. Istilahnya kontetastasi kekuasaan. Dan itu akan memecah belah masyarakat. Dan karena masyarakat sudah terbius, maka dia akan memakan waktu lama untuk memulihkan kesadarannya bahwa dia sudah terbius sebetulnya, sehingga kerusakan sudah terlanjur terjadi di masyarakat,” terang Agus.

Gubernur Lemhanas Agus Widjojo menuturkan, jika perpecahan di antara masyarakat sudah terlanjur terjadi, maka akan membutuhkan waktu yang lama serta cost yang besar untuk memulihkannya. Agus menjelaskan, luka-luka psikologis akibat perpecahan dan konflik akan sulit untuk dihapuskan, apabila sudah bercampur dengan faktor emosional. (PR/AKS) 

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00