• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Ekonomi

Realisasi Belanja Modal Pemerintah Masih Minim

14 February
17:57 2018
0 Votes (0)

KBRN, Pekanbaru : Walaupun realisasi belanja modal dan barang tahun 2017 lalu merupakan tertinggi sejak tiga tahun terakhir, namun penyerapan anggaran belanja modal dan belanja barang pemerintah dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBN) sampai pertengahan bulan Februari 2018, masih rendah atau masih minim.

Hal itu dikatakan oleh Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Riau, Tri Bidhianto, usai bersilaturahmi dengan media, di kantor Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Riau, Rabu (14/2/2018). Dia mengakui, jumlah tersebut masih kecil, apalagi saat ini sudah memasuki bulan kedua.

"Iya, masih kecil angkanya untuk 4 persen di Riau. Secara nasional juga begitu," kata Tri Budhianto.

Dia menjelaskan realisasi belanja kementerian dan lembaga (K/L) menunjukan investasi yang dilakukan pemerintah belum besar diawal tahun.
Disampaikan, sampai pertengahan bulan Februari 2018 ini, realisasi ABPN untuk pengalokasian di Riau berjumlah Rp 422 miliar, atau 4 persen per tanggal 14 Februari 2018.

Dari data Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Riau, Rp 442 miliar tersebut diperuntukkan belanja pegawai Rp 301.599.617.246, belanja barang Rp 73.217.340.093, belanja modal Rp 24.026.572.756, transfer Rp 061.326.400, sehingga totalnya Rp 422.904.856.497.

Dikatakannya, untuk triwulan pertama biasanya memang cukup susah untuk mencapai target.

"Pengalaman saya, untuk triwulan 1, untuk mencapai 15 persen saja memang berat, biasanya bergeraknya di angka 9-10 persen," ujarnya.

Dikatakannya, ada kalanya memang di awal-awal tahun cukup sulit untuk meraih angka realisasi yang lebih baik, hal ini dikarenakan beberapa faktor, di antaranya berkaitan dengan musim.

"Kita memang harus mendorong pemerintah sebagai pengelola anggaran. Kita akui ada kegiatan yang tak bisa cepat, misalnya yang terkait musim, itu tidak bisa dipaksakan memang, misalnya menunggu panen raya padi, atau panen kebun, dan lainnya," tambahnya.

Namun demikian, untuk sejumlah program kegiatan mestinya menurut dia bisa disiasati lebih cepat, dan yang bersifat tidak menunggu bisa lebih cepat dilaksanakan.

"Misalnya untuk beli komputer, kok nunggu November, apa nunggu diskon akhir tahun," ujarnya.

Diakui pula, agar penyerapan tinggi untuk menumbuhkan perekonomian di masyarakat, pihaknya akan menekan kepada K/L dan pemerintah daerah untuk meningkatkan penyerapan belanja modal, belanja barang dan transfer pemerintah pusat ke pemerintah daerah.

"Memang banyak faktor rendahnya realisasi belanja di awal tahun seperti tidak adanya pembayaran kurang bayar tahun sebelumnya, baik subsidi bahan bakar minyak maupun dana bagi hasil, menggunakan sistem reimbursment sehingga akan meningkat tajam di kuartal empat, lebih konservatif dalam belanja di awal tahun untuk menjaga defisit sambil memantau sisi peneriman, lambatnya pencairan karena pengerjaan pembangunan infrastruktur yang membutuhkan waktu lama dan adanya tahapan pencarian sesuai peraturan menteri keuangan," rincinya. (TS)

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00