• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Nasional

Dubes Palestina Sedih Mendalam Terhadap Keputusan Donald Trump Atas Jerusalem

7 December
11:52 2017
0 Votes (0)

KBRN, Serang: Pengumuman resmi presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengenai penetapan Jerusalem sebagai ibukota Israel pada Rabu siang (6/12/2017) waktu Washington D.C, mengundang respon dunia khususnya dari kalangan muslim.

Keputusan Trump yang menyatakan secara administrasi menjadikan ibukota Israel di Jerusalem itupun, diikuti dengan pemindahan kedutaan besar Amerika Serikat dari Tel Aviv ke Jerusalem.

Duta besar Palestina di Indonesia, Zuhair Alshun, menyebut, Trump telah mengambil kesalahan besar dan tidak dapat diterima, tidak hanya oleh rakyat Palestina maupun Muslim dunia.

Tapi juga umat kristen dan Yahudi yang memiliki Jerusalem sebagai kota suci mereka.

“Rakyat Palestina mengutuk dan menolak keputusan itu. Trump tidak memahami pasti dan tidak mendengarkan akan hal itu. Jadi, keputusan tersebut tidak akan berjalan lancar dan tidak diterima oleh seluruh muslim di seluruh dunia. Ini adalah perbatasan yang telah dideklarasikan sejak tahun 1967 yang dimiliki oleh Palestina. Jerusalem itu milik umat Muslim, Kristen bahkan Yahudi. Tapi, itu adalah ibukota Palestina dan ini adalah keputusan final,” ujar Zuhair Alshun ketika ditemui disela-sela pelaksanaan Bali Democracy Forum (BDF) ke 10 di Serang, Banten, Kamis (7/12/2017).

Zuhair menambahkan secara pribadi dirinyapun merasa sangat sedih yang mendalam terhadap keputusan Donald Trump yang dinilai melanggar keputusan dewan keamanan PBB tahun 1967 dan telah melanggar hukum internasional.

“Kami merasa sangat sedih untuk sesuatu yang tidak adil. Sebenarnya kami ini berperang dengan Israel atau dengan Amerika Serikat?” ungkapnya.

Ia juga menyebut Amerika Serikat kehilangan posisi mereka sebagai mitra didalam proses perdamaian Palestina dan Israel.

“Rakyat palestina tetap mengutuk dan tidak menerima keputusan ini, karena bertentangan dengan hukum maupun regulasi internasional. Biarkan saja Trump ingin mengatakan apapun, tapi itu tidak akan menjadi bahan pertimbangan. Amerika Serikat saat ini kehilangan posisinya sebagai mitra dalam proses perdamaian,” tegas Zuhair.

Dibagian lain Zuhair Alshun mengatakan ia berasumsi bahwa perdana menteri Israel, Benjamin Netanyahu, berada dibalik keputusan Trump tersebut.

“Karena ketidakpahaman Trump mengenai Timur-tengah dan teritorinya kemudian diperparah dengan adanya desakan dari Netanyahu, maka keputusan itupun akhirnya dibuat dan diumumkan secara resmi. Jadi, dalam hal ini ia membuat political violence dan itu jelas-jelas telah dimulai,” jelasnya.

Namun, Zuhair mengharapkan akan ada aksi cepat dari dunia internasional, dalam menyikapi keputusan Trump menjadikan Jerusalem sebagai ibukota Israel tersebut.

“Terutama dari organisasi kerjasama Islam (OKI) yang dikabarkan akan segera menggelar konferensi tingkat tinggi (KTT), dalam menyikapi keputusan Trump tersebut. Tak terkecuali pula dari komite negara-negara Arab lainnya untuk segera mengambil tindakan, terhadap keputusan yang melukai rakyat Palestina itu,” tutup Zuhair Alshun. (RM/AKS)

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00