• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Teknologi

LIPI : Ironis, Bahan Baku Obat 95 % Impor

13 October
12:48 2017
1 Votes (5)

KBRN, Bogor : Impor bahan baku obat di Indonesia sangat tinggi, lebih dari 90 persen. Padahal industri farmasi Indonesia tercatat sebagai yang terbesar di ASEAN.

Sangat ironis ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku obat masih sangat tinggi.

Bahan baku yang paling banyak diimpor itu adalah bahan baku beta laktam untuk menjadi amoksilin, antibiotika golongan jenis satu dan parasetamol, induknya sterol, seratus persen impor bahannya.

Peneliti Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI, Dr. Dwi Susilaningsih mengatakan bahan baku obat melimpah di Indonesia, tetapi teknologi cara membuatnya menjadi obat, belum ekonomis. Bahan baku material punya, seperti mikroba untuk amoksilin, penisilium trisogenum. Tetapi untuk mengolah Pensilium trisogenum untuk menjadi Amoksisilin atau obat lain seperti cepalodoksil membutuhkan proses fermentasi, "scalling up" ke industri.

"Indonesia harus mengimpor teknologi atau menyerap teknologi negara tetangga untuk memberdayakan bahan baku lokal menjadi obat di dalam negari," kata Dwi Susilaningsih pada Simposiun Internasional Pengolahan Sumber Daya Hayati (ISBINARU 2017) di Bogor, Kamis (12/10/2017).

"LIPI bisa menjadi komponen dari konsorsium gabungan dari berbagai instansi yaitu Balitbangkes, B2PTO2T, LIPI, ITB, BB Biogen – Balitbangtan, dan PT Indofarma sangat perlu dikuatkan dengan mendukung penelitian guna mencapai swasembada memproduksi bahan baku obat lokal di dalam negeri dan tidak perlu lagi impor bahan baku," harap Dwi Susilaningsih.

Dikemukakan Pemerintah harus menarik investasi pengembangan industri bahan baku farmasi. Pemerintah telah mengeluarkan berbagai kebijakan untuk mengurangi ketergantungan bahan baku impor bagi industri farmasi dalam negeri dengan menetapkan road map percepatan industri farmasi dan kesehatan. 

Industri farmasi Indonesia diharapkan dapat bertransformasi menjadi industri farmasi yang berbasis riset dan pengembangan agar struktur industri farmasi di Indonesia dapat semakin kuat dan mampu bersaing di pasar obat.

"Upaya kemandirian bahan baku obat itu sejalan dengan roadmap pengembangan industri farmasi di dalamnya mencantumkan bahwa pengembangan industri farmasi meliputi pengembangan bahan baku kimia, herbal, biologi, vaksin dan suplemen kesehatan," kata Enny Sudarmonowati, Deputi Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI.

Prof. Dr. Ir. Enny Sudarmonowati juga menegaskan bahwa kegiatan riset yang menangani persoalan bangsa tentu saja tidak dapat dilakukan oleh satu instansi saja karena proses yang sangat kompleks dari hulu hingga hilir sehingga dihasilkan obat yang siap dilepas ke pasaran dan dapat dikonsumsi oleh masyarakat.

Sementara itu, PLT Kepala LIPI,  Prof. Bambang Subinyanto mengatakan ISBINARU 2017, merupakan simposiun  membahas  pengembangan kesadaran terhadap pentingnya pengelolaan sumber daya hayati dengan pendekatan bioekonomi.

Ilmuwan dari lembaga penelitian, akademisi maupun kalangan praktisi untuk saling bertukar hasil penelitian dan informasi terbaru di bidang pemanfaatan sumber daya hayati dan aspek-aspeknya.

Simposium berlangsung selama tiga hari, 12-14 Oktober 2017 di Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya LIPI (Kebun Raya Bogor).(AA)

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00