• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Budaya

FGD Musik Tradisional Dambus Melintas Zaman

7 October
15:27 2017
0 Votes (0)

KBRN, Pangkal Pinang: Sebagai salah satu warisan kekayaan tak benda Dipandang perlu untuk mengetahui secara mendalam tentang ragam Dambus itu sendiri.

Kasi Sejarah dan Tradisi Disbudpar Propinsi Kepulauan Bangka Belitung, Yuyun TW Roesli kepada RRI, Sabtu (7/10/2017) mengatakan kegiatan Fokus Group Diskusion ini di gelar yang muaranya akan mendokumentasikan melalui sebuah buku.

"Kenapa kita adakan kegiatan ini, karena Dambus ini sudah menjadi sebuah warisan yang di lindungi dan sangat berkembang hidup di Bangka Belitun,  meskipun dalam kesempatan ini hanya mungkin sebatas di Bangka Saja Belum sampai ke Belitung ya, namun kedepan nanti akan kita upayakan meluas hingga ke Belitung, tapi kita berkomitmen bagaimana keragaman yang ada dalam kesenian Dambus ini dapat terdokumentasikan melalui tulisan. 

Sementara itu Pemateri Muhammad Firdaus yang Tesis Pasca Sarjananya di Institut Seni Solo Surakarta mengangkat Kesenian Dambus Kepulauan Bangka Belitung dalam kesempatan itu mengatakan Dambus potensi cultural yang beragam karena keberadaannya tidak tunggal hidup diseluruh tempat di BaBel. Setiap daerah itu berbeda punya karakteristiknya masing masing,  baik struktur melodynya dan lain lain.

"Sebagai sample dalam penelitian diambil Dambus Air anyir dan Mendo yang memiliki karakter berbeda namun dalam satu wilayah Kabupaten Bangka nah perbedaan perbedaan yang ada itulah yang akan saya bahas dan saya paparkan dalam penelitian mendalam ini", ujar Firdaus.

Dambus  lebih di kenal dengan sebutan Gambus secara nasional, sedangkan di Bangka Belitung lebih di kenal dengan sebutan Dambus.

"Kenapa di Bangka Belitung menggunakan kata Dambus,  perbedaan ini juga menjadi sesuatu yang menarik untuk di kaji dan dalam penelitian ini juga akan di bahas persoalan ini perbedaan merupakan suatu kekayaan, dari syairnya dengan menggunakan dialeg masing masing daerah itupun sudah berbeda, dalam syairnya juga menjadi hal yang menarik untuk di kaji lebih lanjut", jelas Firdaus.

FGD Musik Dambus Melintas Zaman yang di gagas oleh Dinas Kebudayaan Pariwisata Propinsi Kepulauan Bangka Belitung juga di hadiri oleh sejumlah Seniman dan Budayawan Kepulauan Bangka Belitung. Salah satu seniman musik yang hadir yakni Sukma Wijaya yang mengatakan bahwa penelitian terkait musik Dambus Kepulauan Bangka Belitung sangat penting di lakukan untuk menyatukan persepsi antar senimannya sendiri. 

"Bagus ya ini karena memang saya itu kalau bertemu sama seniman seniman dambus di Bangka ini slalu masing masing itu merasa benar sendiri, misalnya lagu Abu Sama saja bermacam versi, tanya si ini saya y benar,  tanya si itu kamiyang benar,  nah penelitian ini penting untuk menyatukan persepsi kita tentang dambus yang kaya muatal kearofan lokal ini", tukasnya

Sedangkan Budayawan Asal Belitung, Yan Sancin menguraikan sekelumit sejarah tentang dambus yang dikatakannya berasal dari penyebar agama islam di Kepulauan Bangka Belitung dari Arab.

"Islam itu masuk dari utara dan selatan,  dan banyak dari utara lebih dulu nah saya punya literasi yang saya dapat dari berbagai sumber tentang itu. Malah ada seorang ulama besar sesepuh NU Kiyai Maksum Muin Syekh menyatakan bahwa penyebaran Islam di Pulau Jawa itu justru berasal dari Bangka Belitung Pernyataan ini tentu menarik untuk di kaji di era sekarang ini dan lagi saya oernah dengar bahwa orkes Gambus pertama berdiri di Indonesia itu di dirikan oleh Syehk Alba orang tuanya akhmad albar tapi kurang tau tahun berapa jika di tarik usianya melihat Ahmad Albar saat ini bisa kita tarik bahwa diperkirakan usianya baru berapa abad sementara islam sudah hadir berabad abad di Indonesia",ungkap Ian

Hasil dari FGD Musik Tradisi Dambus yang melintasi Zaman akan bermuara kepada pelaksanaan seminar yang akan di gelar pada tanggal 2 & 3 November yang akan menghadirkan Narasumber dari UI, UBB dan Budayawan Kepulauan Bangka Belitung. (WS/AA)

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00