• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Budaya

Festival Rujak Uleg 2017: Masyarakat yang Saling Menghormati

14 May
18:52 2017
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta: Festival Rujak Uleg 2017 yang digelar Pemerintah Kota Surabaya dalam rangka Hari Ulang Tahun ke-724 Kota Surabaya,  di kawasan Kembang Jepun, menuai sukses besar, Minggu (14/5/2017).

Festival Rujak Uleg mendapatkan sambutan dari masyarakat, tidak hanya dari Surabaya namun juga di luar Surabaya bahkan mahasiswa asing yang sedang belajar di Kota Pahlawan, turut meramaikan even tahunan tersebut.

“Ini yang ke 11 atau 12, yang jelas selalu ada yang baru dari semua peserta yang terlibat dari Rujak Uleg. Ada 1.500 orang peserta. Satu kelompok 5-10 orang. Antusias luar biasa. Selain warga Surabaya, semua ambil peran. Ada masyarakat komunitas Papua, Tapanuli, Manado, dan komunitas lain semua ambil peran bahkan mahasiswa asing di Surabaya, juga ambil peran,” kata Humas Pemkot Surabaya, Muhammad Fikser dalam perbincangan bersama Radio Republik Indonesia, Minggu (14/5/2017).

Salah satu yang membedakan pelaksanaan Festival Rujak Uleg 2017 dengan tahun sebelumnya adalah konstum yang dipakai oleh peserta, selalu berbeda-beda. Kali ini konsepnya adalah tentang perjuangan dan budaya. Muhammad Fikser mengatakan, Rujak Uleg  hanya ada di Surabaya karena memiliki ciri khas sendiri. Rujak Uleg disebut sebagai rujak cingur  yang berisi sayuran, kacang, pisang, buah,  irisan tahu, tempe, lontong, dan cingur, lalu disiram dengan bumbu saus kacang dicampur petis hitam. Cingur atau moncong adalah bagian mulut sapi hingga ke hidungnya,

“Yang lebih heboh itu cingur sapi. Ada krupuk juga. Ini protein yang paling lengkap. Ini benar-benar sudah menjadi ciri khas Surabaya. Paling heboh adalah nguleg sambil goyang-goyang. Kegiatan ini selalu ditunggu-tunggu warga”.

Paling penting dari festival Rujak Uleg adalah kebersamaan. Biasanya para peserta saling bertukar rujak, selain itu warga yang menonton juga dapat menikmati rujak uleg.

“Disampaikan oleh Bu Wali Kota bahwa kita sama. Dengan kegiatan ini, pesannya adalah kita tidak ada yang berbeda. Kita sama, bangsa Indonesia yang saling menghormati dan menghargai. Bu Wali Kota sempat bertanya secara berulang-ulang kepada warga yang hadir ‘apakah kita sama warga negara Indonesia yang menunjung tinggi perbedaan?’, warga menjawab kita semua sama. Jadi tidak membedakan. Dengan kegiatan ini, kita membaur,” ujarnya. (Sgd/AA)

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00