• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Budaya

Jenang Tidak Sekedar Makanan, Namun Ada Filosifi Bagi Kehidupan Manusia

17 February
20:29 2017
0 Votes (0)

KBRN, Surakarta: Jenang (bubur) bagi masyarakat Jawa tidak hanya sekedar makanan yang khas. Namun juga kuliner yang memanjakan lidah dengan syarat makna dan arti.

Sebanyak 21 jenis jenang menjadi pengiring saat perpindahan karaton Kartasura ke Desa Sala sekarang Karaton Surakarta 272 tahun silam. Karena jenang yang dibawa rombongan raja PB II itu memilik makna tersendiri.

Dewan Penasehat Yayasan Jenang Indonesia, KGPH Dipokusumo mengemukakan, terdapat 17 jenis jenang di dalam gunungan yang diarak saat puncak HUT Kota Solo. Kehadiran jenang dalam hari jadi Kota Solo sangat tepat ketika menyimak dalam sejarahnya.

"Ketika Keraton Kartasura diboyong ke Solo, terdapat 17 jenis jenang yang turut dibawa dalam prosesi kala itu," katanya kepada Wartawan disela acara  Festival Jenang Nusantara, Jumat (17/2/2017).

Tujuh belas jenang itu adalah jenang abrit petang, jenang Soloko, jenang Suran, Jenang Grendul, Jenang Lahan, Jenang Kolep. Kemudian jenang Taming, Jenang Koloh, Jenang Sumsum, Jenang Lang, jenang Manggul, Jenang Timbal, Jenang warna 4, jenang pati, Jenang Ngranggah, Jenang Lemu, dan Jenang Katul.

“Setiap jenang memiliki makna filosofis yang tinggi,” ungkap Dipokusumo.

Pria yang juga kerabat Keraton Solo itu menuturkan, jenang tidak hanya sekedar makanan. Jenang sangat lekat dengan kehidupan masyarakat Jawa.

Jenang selalu menemani di setiap babak kehidupan, mulai dari lahir hingga meninggal dunia. Dikatakan Dipokusumo, masyarakat Jawa biasa membuat jenang procotan pada acara tujuh bulanan kehamilan.

"Makanan yang terbuat dari tepung beras ini menyimbolkan harapan agar ibu melahirkan dengan lancar. Si jabang bayi sehat usai melahirkan sempurna fisik dan rohaninya," paparnya.
 
Tak hanya itu, biasanya masyarakat Jawa setelah mempunyai hajat (Mantu), biasanya mereka akan menyantap jenang sumsum. Rasanya yang gurih dan manis dipercaya mampu menghilangkan rasa kelelahan.

"Jenang sungsum yang terrbuat dari tepung beras putih kemudian dicampur dengan cairan gula kelapa rasanya nikmat. Ini akan menghilangkan rasa lelah setelah melaksanakan hajatan," jelasnya.

Kemudian Jenang abang putih (merah-putih) yang menyimbolkan kesuburan manusia. Di mana jenang merah simbol perempuan sedangkan putih simbol laki-laki.

"Jenang ini menyiratkan filosofi keberadaan manusia di bumi atas kuasa Tuhan. Manusia terbentuk atas dua darah yang bertemu,"ungkapnya. (Mulato Ishaan/AA)

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00