| Penyatuan 2 Jiwa, Penyatuan 2 budaya |
| Thursday, 12 March 2009 15:20 |
|
Penyatuan dua jiwa , penyatuan dua budaya tercermin dalam pernikahan agung Putri dalam KDPAA Mangkunegoro 9 GRA Agung Putri Seniwati dengan Sarwana Tamrin di Puro Negara Solo. Berbagai prosesi pernikahan digelar mulai 10 Juni dengan puncak kegiatan tanggal 13 Juni tahun 2008, menjadi pusat perhatian segenap komponen masyarakat mulai wong elit , kalangan selebritis hingga para pejabat pernikahan Agung tersebut tidak saja terkesan sakral penung keanggunan namun juga unik paduan budaya jawa karena penganten putri yang akrab dipanggil dengan Menur tersebut merupakan putri penguasa Puro Mangkunegara sementara Sarwana yang selama ini dikenal sebagai penyanyi group Warna berasal dari Bugis Makassar dari kalangan rakyat biasa . Prosesi pernikahan diawali sungkeman pengantin putri Menur dipingit tidak boleh keluar sesuai adat jawa, sedangkan Sarwana melakukan ritual mapacing atau mohon doa restu kepada sesepuh sesuai adat Bugis Makassar.
Kegiatan lain tanggal 11 Juni yang lalu yang punya hajat KGPAA Mangkunegoro 9 melakukan pemasangan bleketepe atau atap sirap dari daun kelapa serta tumbuhan yang berisi rangkaian pisang satu tandan janur daun daun beringin di 6 tiang utama komplek Puro Mangkunegara dilanjutkan pemagaran mahisan atau pemotongan kerbau serta andong takisan atau menanak nasi untuk pertama kali. Sementara kegiatan lain yang menyedot perhatian ribuan masyarakat Solo dan sekitarnya serta para wisatawan.
Tabuhan gendang sebagai simbol mengusir roh jahat menambah suasana semarak jalanya kirab sepanjang 3 km atau diawali kereta andong pembawa seserahan, prajurit kraton dari Puro Mangkunegoro dan walikota Joko Widodo bersama wakil walikota menunggang kuda mengenakan pakaian beskap hitam diikuti kereta kencana. Penyerahan pengantin laki2 dinamakan Erang-erang dalam adat Sulawesi Selatan, Erang2 ada banyak tata cara adat yang harus dipenuhi diantaranya rombongan pembawa bunga subali yang terdiri atas gadis2 membawa lilin yang memakna agar bisa memberikan penerangan , selain itu juga membawa kue tradisional Bugis yang ditempatkan dalam pusala atau nampan sejumlah 36 buah jumlah sebanyak itu sebagai penghormatan karena GRA Seniwati adalah keturunan seorang raja. Selain itu dalam acara penyerahan atau nyantri ini rombongan Sarwana juga diikuti 3 utusan kerajaan yakni kerajaan Goa, Ajata pareng dan kerajaan Deli Serdang dari Sumatera Selatan.
Setelah sampai di pura Mangkunegara Sarwana Tamrin yang waktu itu calon mempelai pria kemudian nyantri untuk mempelajari berbagai adat dan tradisi budaya Jawa Puro Mangkunegara , sedang sehari sebelum ijab kabulpun dilakukan siraman dan jongkolan serta malam harinya digelar midodarani dan gelaran pesta rakyat , ribuan warga memenuhi puro negaran untuk mengikuti pesta rakyat sambil menikmati makanan khas Solo yang disediakan secara gratis serta musik tradisional.
Pada puncak acara berlangsung ijab kabul dengan khidmat selain kerabat Mangkunegaran hadir pula keluarga besar Soekarno termasuk Megawati Soekarno Putri yang merupakan bude dari Menur, karena pengantin putri ini merupakan anak KGB Mangkunegoro dengan Sukmawati Soekarno Putri bertindak sebagai wali pengantin putri sang ayahanda sementara saksi Taufik Kiemas, dengan suara lantang Sarwana mengucapkan ijab kabul dihadapan penghulu dan hadirin
Malam hari digelar acara panggih dan resepsi acara ini juga unik karena ditengah perelatan pengantin yang kental dengan budaya Jawa terselip budaya khas Bugis Makassar yang tercermin dari rombongan besan hadir dengan mengenakan pakaian khas Bugis serta sajian tari Makarena. Sedangkan dalam tradisi Jawa saat malam peralatan antara lain diwarnai denan upacara Panggih yakni pertemuan antara pengantin putri dan pengasntin pria acara adat krobogan dan sungkeman.
Acara ini semakin semarak dengan sajian tarian Mangkunagaran, Budoyo Seroya Semirat dan fragmen tari Panji Sekartaji. Anggota DPR Arya Bima salah satu tamu yang hadir dalam malam Panggih dan resepsi tersebut menilai mementum pernikahan ini merupakan simbol ke Bhinekaan Budaya Indonesia. image:www.skyscrapercity.com
|




