Keindahan dan Keagungan Sejarah Dari Bumi Khatulistiwa
Friday, 10 July 2009 15:14

Bumi Khatulistiwa merupakan sebutan yang paling populer untuk ibukota Propinsi Kalimantan Barat, Pontianak, yang dilalui oleh garis khatulistiwa. Kota Pontianak didirikan pada tanggal 23 Oktober 1771 oleh Sultan Syarief Abdurracham Alqadrie, keturunan Arab Saudi.

Sungai Kapuas adalah sungai terpanjang di Indonesia dengan panjang 1.143 Km, yang membagi Kota Pontianak menjadi dua bagian. Jembatan kokoh yang melintasinya menyuguhkan sejarah dan kebudayaan yang mempesona bagi petualangan wisatawan, sehingga menjadi pengalaman yang tak terlupakan.

MUSEUM PROPINSI

Museum Propinsi, sebuah bangungan indah berdesain modern dengan ornament ciri khas dari Kalimantan Barat.  Sebagai jendela budaya peradaban masyarakat Kalimantan Barat tempo dulu, beberapa benda-benda peninggalan bersejarah tersimpan  dengan baik.  Dibagian depan museum dapat dilihat sebuah relief yang melukiskan peristiwa perjuangan kemerdekaan dari suku Dayak dan Melayu.  Kerajinan kayu tradisional dari suku Dayak dan Melayu serta berbagai bentuk keramik  China dari beberapa dinasti juga dapat dilihat di meseum ini.

REPLIKA RUMAH PANJANG

Rumah Panjang atau biasa disebut rumah betang adalah sebuah tiruan dari rumah panjang tradisional  suku Dayak di daerah pedalaman Kalimantan.  Rumah ini dibangun dengan tiang tinggi lebih dari 2 meter, sehingga orang dapat dengan leluasa berjalan di dalam rumah.  Rumah Panjang terletak di Jalan Sutoyo Pontianak, sekitar 100 meter dari Museum Propinsi.  Di lokasi ini sering digelar gawai Adat Dayak yaitu pesta panen padi yang dilakukan etnis Dayak dengan menampilkan berbagai kesenian dan tradisi dari Sub-sub etnis Dayak yang ada di Kalimantan Barat.

TUGU KHATULISTIWA

Sekitar lima kilometer sebelah utara dari pusat Kota Pontianak, dapat ditemukan sebuah tanda garis khatulistiwa yang membagi bumi menjadi dua bagian.  Tempat / monumen ini ditemukan pada tahun 1928 oleh sebuah ekspedisi  Astronomi Belanda.  Pada 1938, atau tepatnya sepuluh  tahun kemudian Tugu Khatulistiwa direnovasi dean dikembangkan kembali oleh seorang arsitek Indonesia yang bernama Sylaban. Kejadian alam yang unik dimana posisi titik perpotongan antara pusat matahari dengan garis khatulistiwa berada pada 109201 00 Bujur Timur atau disebut kulminadi atas , terjadi pada setiap tanggal 21 - 23 Maret dan September menjelang  tengah hari.  Pada saati itu semua bneda yang berada disekitar tugu tidak memilik bayangan. Peristiwa ini terjadi hanya selama 5 - 10 menit.

MASJID JAMI

Masjid Jami, salah satu masjid besar peninggalan masa kesultanan Pontianak.  Lokasinya berada di pinggiran sungai yang indah masih asli.  Setiap Jumat siang, Kayu Belian yang masih ada didalam masjid turut bergema oleh sura Adzan.

KERATON KADARIAH

Keraton Pontianak adalah Pusat Pemerintahan Kerajaan Pontianak tempo dulu.  Struktur bangunan dari kayu yang kokoh didirikan oleh Sultan Syarief Abdurracham Alqadrie pada tahun 1771.  Pada Keraton ini terdapat mimbar yang terbuat dari kayu serta ada pula cermin antik dari Perancis yang berada di aula utama yang oleh masyarakat setempat sering disebut  Kaca Seribu.  Sultan juga meninggalkan harta-harta pusaka dan benda-benda warisan lainnya kepada anggota keluarga yang masih ada untuk dipelihara dan dirawat.  Keraton Kadariah berada di daerah kampung Dalam Bugis, Kecamatan Pontianak Timur.

KAMPUNG BETING

Kampung Beting adalah sebuah peradaban Kota Pontianak di masa lalu yang masih terjaga kelestariannya hingga kini. Kampung tersebut dibangun diatas sungai, sehingga sampan merupakan sarana penting yang digunakan untuk lalu lintas sehari-hari.  Aktivitas perdagangan yang dilakukan oleh masyarakat juga sangat menggantungkan pada transprotasi air.  Kampung Beting menyingkap banyak kehidupan era kesultanan Pontianak sejak berdirinya Ibukota Kalimantan Barat pada tahun 1771.  Kampung Beting berlokasi di daerah pertemuan antara Sungai Kapuas dan Sungai Landak, dengan Jembatan Kayu Ulin yang menghubungkan dari rumah ke rumah.

MAKAM BATU LAYANG

Makam Batu Layang juga biasa di sebut Taman Makam dari Kerajaan Pontianak, mulai dari Raja Pertama ( Sultan Syarief Abdurrachman Alqadrie ) hingga Raja Terakhir ( Sultan Hamid II) serta beberapa keluarga raja.

MERIAM KARBIT

Tradisi memainkan meriam Karbit bagi bagi masyarakat Pontianak yang tinggal di tepian sungai merupakan suatu daya tarik tersendiri.  Meriam dengan diameter lebih dari 30 cm dan panjang hingga 6 meter biasanya dibunyikan pada bulan Ramadhan tepatnya pada malam kedua puluh satu hingga hari raya Idul Fitri.

( NR)