• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Daerah

Tekan Dampak Korusif Kodam XVI/Pattimura Gelar Sosialisasi Bahaya Merkuri Bagi Masyarakat Iha-Luhu

20 May
05:31 2017
1 Votes (5)

KBRN, Ambon: Kodam XVI/Pattimura bersama Pemerintah Seram Bagian Barat (SBB) menggelar kegiatan Sosialisasi Bahaya Merkuri bertempat di Pos Satgas Perbatasan (Yonif 726/Tamalatea) Negeri (Desa) Iha dan Luhu, Kecamatan Huamual, Kabupaten Seram Bagian Barat, Jumat (19/05/2017).

Hadir selaku pemateri dr.Jossep Frederick William dari Mediacus Group. Melalui pemaparannya, dr. William menjelaskan kepada masyarakat kedua Negeri tentang apa itu merkuri, bagaimana penyebarannya, serta dampak kerusakan yang akan ditimbulkan oleh penyalahgunaan merkuri baik terhadap manusia maupun alam sekitar.

Menurut dr. William, Indonesia merupakan penyumbang terbesar pencemaran merkuri dan salah satu Negara dengan pencemaran merkuri tertinggi di Asia Tenggara. Pada Tahun 2005 terindikasi pencemaran merkuri mencapai 5000 VVM pada tahun 2010 meningkat  dua kali lipat menjadi 10.000 VVM.

Merkuri atau yang juga disebut air raksa (Hg) adalah salah satu jenis logam yang banyak ditemukan di alam dan tersebar dalam batu-batuan, biji tambang, tanah, air dan udara sebagai senyawa anorganik dan organik. Salah satu batuan alami yang memiliki kandungan mineral merkuri tinggi adalah batu cinnabar.

“Batu cinnabar yang terpapar sinar matahari langsung maka senyawa merkurinya akan mengendap dan terbawa angin, inilah peyebab keracunan merkuri dapat menyebar jauh dari tempat penambangan cinnabar” jelas dr William dalam pemaparannya.

Merkuri memiliki dampak korusif atau merusak yang sangat tinggi baik bagi manusia mau pun alam.

“Bapak dan ibu sekarang mungkin belum merasakan dampak merkuri terhadap kesehatan bapak dan ibu tapi beberapa tahun ke bapak dan ibu pasti akan mendapatkan gejala pegal atau keletihan berlebih hingga kejang” tambah dr. William.

Negeri Iha dan Luhu dipilih sebagai target sosialisasi karena saat ini, masyarakat kedua Negeri sedang aktif melakukan penambangan cinnabar di Gunung Hatu Tembaga, Negeri Luhu.

Beberapa masyarakat dalam dialog terbuka menyampaikan jika penambangan cinnabar yang mereka lakukan saat ini harus dihentikan, maka pemerintah daerah harus mencarikan solusi sebagai pengganti mata pencaharian mereka.

Pangdam XVI/Pattimura, Mayjen TNI Doni Monardo dalam amanatnya yang dibacakan oleh PA Ahli Bidang Hukum dan Humaniter Kolonel Inf Masduki dihadapan warga Negeri Iha dan Luhu menyampaikan, sosialisasi ini dijadikan sebagai momentum dan media sharing dalam menyampaikan permasalahan tentang bahaya penggunaan Merkuri.

Kodam XVI/Pattimura sadar penambangan cinnabar yang dilakukan masyarakat kedua Negeri adalah mata pencaharian untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka. Oleh karenanya, melalui Program “Emas Biru” dan “Emas Hijau” memberikan solusi bagi pemenuhuan kebutuhan masyarakat Iha dan Luhu. Selain lebih aman, hasil laut dan pertanian dapat melimpah sehingga mampu  menunjang ekonomi masyarakat tanpa harus menambang.

Turut Hadir pada sosialisasi ini PA Ahli Pertahanan Negara Kolonel Inf Pramungkas, LO Al Kolonel Laut Azwar, Asisten Territorial Kodam XVI/Pattimura Kolonel Inf Ali Aminudin, , Sekda Kab. SBB Bpk Manshur Tuharea, Dandim 1502/Masohi Letkol Inf Ahmad Fikri Dalimunthe, Kapolres Kab.SBB Akbp Agus Setiawan, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kab.SBB Bpk.Alfin Tuasun dan Kepala Dinas PU Kab.SBB Thomas Wattimena. (NAL)

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00